Yasodhara Puteri

Mencerdaskan…Mencerahkan….

Archive for January, 2009

TAHUN BARU DAN REINKARNASI SOSIAL

Posted by yasodhara on January 22, 2009

oleh Jo Priastana

Filsuf Yunani Herakleitos (500 SM) bilang hakekat segala sesuatu adalah perubahan. Tak ada orang yang menyangkal mengenai perubahan ini. Bahkan, Barack Obama, Presiden AS ke 44 yang baru saja terpilih sungguh mempercayai dan dapat membuktikannya, dengan menyatakan Change, We Can Belive In! Perubahan. Itulah yang mencirikan fenomena dan kehidupan ini dan yang memungkinkan konsep waktu mengalir menghadirkan tahun baru 2009!

Segalanya berubah bagai arus sungai yang mengalir. Bila filsuf Yunani lainnya, Parmenides (515-440 SM) menyatakan kebalikannya bahwa yang ada hanyalah ketetapan, maka ketetapan ini pun barangkali hanya mungkin di dalam lintasan perubahan. Seperti arus listrik dalam nyalanya lampu iklan yang bergerak cepat membentuk kesatuan rentetan kata-kata yang sesungguhnya terjadi karena adanya rentetan lampu yang hidup-mati dengan cepatnya.

Perubahan sebagai ciri kehidupan juga diungkapkan Sang Buddha sebagaimana yang dinyatakannya dalam hukum kesunyataan anicca (tidak kekal), anatta, (tiada substansi yang berdiri sendiri) dan dukkha (fenomena penderitaan sebagai yang tidak memuaskan). Melalui arus perubahan dan ketidak-kekalan serta tiada subastansi diri yang kekal itulah menghadirkan samsara (sejarah eksistensial) manusia melalui reinkarnasi penerusan kelahiran kembali (punarbhava) yang merupakan ziarah manusia dalam menyelesaikan segala sesuatu yang masih belum memuaskan.

Segala yang belum memuaskan memerlukan perwujudannya kembali. Perubahan yang menandai beragam fenomena kehidupan dan menjadi ciri segala apa yang terdapat di alam semesta ini menunjukkan bahwa kehidupan ini adalah suatu proses perwujudan baru yang terus-menerus. Dalam bingkai hukum kesunyataan lainnya seperti hukum niyama (ketertiban bersyarat), fenomena perubahan atau reinkarnasi itu terjadi baik dalam dunia inorganic (utu-niyama) maupun dunia organic (bija niyama), serta pada ragam dunia kehidupan, baik itu lingkungan budaya maupun lingkungan sosial, baik pada dunia ide (citta) maupun dunia kesadaran (vinnana) serta pada tindakan-tindakan (karma) dan kehidupan bersama manusia.

Dunia sosial pun tak luput dari hukum perubahan. Reinkarnasi sosial terjadi sepanjang sejarah dan peradaban manusia. Dalam perjalanan waktu, manusia hadir, tumbuh dan berkembang dengan kesosialannya menumbuhkan dan memperbaharui sistim-sistim sosialnya. Sistim sosial masyarakat jaman batu beralih menjadi sistim sosial masyarakat jaman perunggu, jaman besi, atau sistim sosial masyarakat agraris yang tumbang berganti sistim sosial industrial, dan sistim sosial feudal, monarki yang beralih ke sistim sosial yang demokratis, serta kehidupan masyarakat yang semakin global dalam jaringan internet mencairkan sistim sosial yang terpusat dan menghadirkan perwujudan system sosial baru hasil interaksi dari beragam sistim sosial.

Segalanya menghadirkan kebaruan. Alam berubah, waktu mengalir, peradaban manusia tumbuh, berkembang dan lenyap, jutaan sel dalam tubuh mati dan lenyap sepanjang hari sebagaimana manusia yang selalu hadir dan lenyap, lahir dan mati dan bertumimbal lahir bersalin wujud baru dalam ziarah samsara-nya. Lingkungan budaya dan lingkungan sosial manusia berubah, menampakkan pembaharuan dan mewujudkan kehidupan barunya yang merentang dalam aliran waktu yang tak terbatas (amitayus).

Mempercayai perubahan berarti kita tumbuh dalam kehidupan. Menjalani kehidupan berarti berani menatap perubahan yang senantiasa menghadirkan pembaharuan. Karenanya kelahiran kembali (reinkarnasi) itu merupakan suatu perjalanan hidup baru, perjalanan kembali menemukan pembaharuan kehidupan, dimana diri yang tidak ber-substansi kekal itu (anatta) yang tidak memuaskan (dukkha) sesungguhnya adalah tubuh sosial, diri altruis yang mewujudkan tubuh sosial dan berujung pada pembaharuan sosial. Kemanakah arah perwujudan baru dari tubuh sosial masyarakat kita di tahun 2009 ini?

Perjalanan kehidupan dimulai dengan awal baru dalam kondisi yang telah diperbaharui. Layaknya sepasang pengantin yang mendapat ucapan selamat menempuh hidup baru, maka kehidupan sosial-politik, seperti pemilu 2009 merupakan malam pengantin dari berbagai kelompok sosial dan lapisan masyarakat Indonesia untuk mewujudkan pembaharua, sebagai suatu momentum peralihan kehidupan atau titik- antara (antarbhava) untuk terjadinya reinkarnasi sosial lahirnya Indonesia Baru.

Dalam konteks perjalanan spiritual manusia, reinkarnasi terjadi sebagaimana juga terjadinya perkawinan dan kematian. Pertemuan dan perpisahan yang merupakan fenomena yang satu bagaikan dua sisi dari satu kepinng mata uang yang satu dan sama, dimana arus penyatuan (kamma tanha) dan dambaan akan kehidupan baru (bhava tanha) terus berlanjut melalui kerjanya kesadaran penerusan (patisandhi vinnana) dan kesadaran menjelang ajal (cutti citta) yang mempesona terjadinya perwujudan tubuh dan kesadaran baru (nama-rupa) serta lahirnya generasi baru.

Reinkarnasi terjadi dalam mengenakan tubuh baru sebagai ziarah samsara, lingkaran kelahiran yang terus berulang guna menemukan nirvana. Nirvana yang mengatasi segala yang tidak memuaskan (dukkha) dan merengkuh kesempurnaan dalam paradoks dialektika yang menyatukan segaka wujud dualisme; lahir-mati, duka cita-suka cita dalam titik pusat keheningan, kepenuhan dalam kekosongan (sunyata).

Oleh kecerdasannya, manusia yang bijaksana dapat mengarahkan kehidupan dan mengendalikan putaran nasibya.. Namun sering kali, orang yang beba yang meninggalkan kesadarannya sangat menyandarkan nasibnya pada bintang yang berada jauh di langit tinggi. Namun, apa yang bisa diberikan bintang-bintang itu bila tanpa usaha diri sendiri. Sang Buddha pernah berkata: “kesadaran adalah kehidupan dan kepandaian merupakan bintang keberuntungan kita.”

Dunia ini merupakan suatu fenomena yang tidak abadi. Kita merupakan bagian dari dunia ini dalam suatu segmen waktu yang singkat dan mengalami transformasi tak terbatas. Setiap kata yang ditulis, setiap batu yang dipahat, setiap lukisan artistik, setiap stuktur kebudayaan, setiap generasi manusia pada akhirnya akan lenyap, seperti halnya daun gugur di musim semi yang akhirnya akan dilupakan. Namun, karena setiap eksistensi itu tumbuh dalam saling bergantung satu sama lain (pratitya samutpada) dan saling berpenetrasi, maka dalam kelenyapannyai itu mereka pun bersintesis menarik unsur-unsurnya satu sama lain dan mengalami reinkarnasi, bertransformasi dan menemukan pembaharuan kembali dalam perwujudannyas yang baru.

Perlu berapa lama kita menjalani hidup? Adakah kehidupan saat ini tidak cukup juga hingga perlu berlanjut pada kelahiran berikutnya? Dikatakan oleh Sang Buddha bahwa nilai kehidupan itu bukan terletak pada panjang pendeknya hidup. Hidup seratus tahun belum tentu sebaik kalau menjadi seorang yang sangat waspada dan sadar, berguna meski dalam sehari. Karenanya bukan waktu masa lalu dan waktu masa depan yang menentukan perubahan, namun kebangkitan kesadaran dan tindakan-tindakan saat inilah yang merangkum dan memberi makna masa lalu serta menentukan masa depan.

Dalam waktu masa kini itulah ada keberadaan dan kehidupan serta terjadi perubahan maupun pembaharuan. Di mana tidak ada perubahan dan pembaharuan maka di situ tidak ada apa-apa, tidak ada kehidupan. Hanya dalam kehidupan saat ini dan di sini yang terus menghadirkan perubahan dan pembaharuan sebagaimana juga tumbuhnya kesadaran terus menerus. Karena segala sesuatu yang hidup ada waktunya, maka biarkanlah dia hadir. Kehidupan itu sendiri adalah kesadaran, maka biarkan kesadaran itu bangkit. Kebangkitan kesadaran itulah yang dinamakan Buddha.

Kebangkitan kesadaran (Buddha) yang terentang dalam waktu tak terbatas dan mengalir secara abadi (amitabha)) itu terus aktif berkarya mewujudkan tubuh dharmanya (dharmakaya), menjadi tubuh sosial Bodhisattva. Bodhisattva yang bersifat altruis, penuh damai, kasih sayang dan terus berkarya sepanjang waktu bagi pembebasan makhluk yang menderita itu tidak lain adalah reinkarnasi sosial pencerahan Buddha. Bodhisattva yang tidak lain adalah diri kita sendiri yang hidup bermakna bagi orang lain dan yang menjadikan kebangkitan kesadaran sebagai kekuatan spiritual untuk menciptakan transformasi sosial, mewujudkan perubahan dan pembaharuan sosial. Selamat Tahun Baru 2009! (Majalah TAPIAN, Edisi Januari 2009).

Posted in Refleksi | 1 Comment »

Happy Vaisakh

Posted by yasodhara on January 20, 2009

happy-vaisakh

Happy Vaisakh

Hari Suci Waisak merupakan hari suci utama umat Buddha yang dirayakan dalam rangka memperingati tiga peristiwa penting yang terjadi dalam hidup Sang Buddha Gautama atau Buddha Sakyamuni, yaitu: hari kelahirannya, hari pencapaian penerangan sempurna, dan hari wafatnya atau Parinibbana.

Dalam buku “ Happy Vaisakh: Tiga Peristiwa Suci dan Maknanya Bagi Dunia Kehidupan,” ini selain tersajikan berbagai tulisan tentang kehidupan Sang Buddha seputar tiga peristiwa Waisak itu juga dilengkapi dengan topik-topik penting lainnya yang bersifat informative dan praktis, seperti:

Detik-Detik Waisak Sampai Tahun 2026, Waisak dan Semangat Buddha Jayanti yang menyertai Kebangkitan kembali Agama Buddha di Indonesia di tahun 1950-an, serta komunikasi pencerahan supersingkat antara Sang Buddha dan Maha Kasyapa bagaikan layaknya SMS(Short Message Service), maupun kumpulan SMS Waisak berupa puisi-puisi singkat yang mencerahkan,

Lebih jauh buku “Happy Vaisakh” ini juga diperkaya dengan rangkaian tulisan Waisak kontekstual yang pernah dimuat di dalam berbagai surat kabar dengan berbagai topiknya yang menarik dan actual, serta yang memperlihatkan relevansi makna Waisak bagi dunia kehidupan.

Dengan begitu, Buku “ Happy Vaisakh” ini selain akan mengajak pembaca memahami sepenuhnya tentang tiga peristiwa suci yang terjadi dalam kehidupan Sang Buddha, diharapkan juga akan mampu memetik makna Waisak dalam kehidupan sehari hari atau memahami pesan universal Waisak di tengah-tengah dunia kehidupan yang terus berubah dan berkembang. Happy Vaisakh!

Posted in Books | Leave a Comment »

Be Buddhist Be Happy

Posted by yasodhara on January 20, 2009

Be Buddhist Be Happy

Be Buddhist Be Happy

Be Buddhist Be Happy

Menjadi seorang beragama sepantasnyalah menjadi orang yang berbahagia. Begitulah kiranya makna dasar dari seorang yang beragama., dalam hal ini mereka yang beragama Buddha. Karena menjadi seorang Buddhis berarti menyatakan berlindung kepada Tri Ratna: Buddha, Dharma dan Sangha yang merupakan manifestasi dari nilai- nilai Mutlak yang menjadi sumber segala kebahagiaan.

Dalam buku ini tersaji ulasan mengenai Tri Ratna, yang merupakan substansi keyakinan seorang Buddhis dan sumber menemukan hidup yang bahagia. Selain itu juga memuat paparan mengenai apa itu agama, ada apa dengan agama serta ulasan mengenai kebahagiaan yang disoroti berdasarkan hukum kesunyataan, penghidupan benar dan pelaksanaan sila atau moralitas.

Dengan dilengkapi materi mengenai pendidikan iman bagi kaum muda Buddhist, serta Buddhadharma yang bersifat mendasar, utuh dan menyeluruh yang meliputi hukum kesunyataan, pokok-pokok ajaran Buddhadharma, Mahayana dan Tantrayana, serta topic mengenai Berbuddha dan Berbudaya , maka buku ini merupakan pengantar yang sangat baik dan tepat di dalam mengenal agama Buddha dan menumbuhkan kesadaran seorang Buddhis yang inklusif, cerdas, berwawasan, dan mencerahkan, serta yang pada akhirnya mengenali bahwa menjadi seorang Buddhist berarti juga menjadi berbahagia. Be Buddhist Be Happy!

Posted in Books | Leave a Comment »

Ada Apa Dengan Aku

Posted by yasodhara on January 20, 2009

Ada Apa Dengan Aku

Ada Apa Dengan Aku

Ada Apa Dengan Aku

Kebanyakan dari kita menganggap, mempercayai atau menggenggam suatu idea bahwa kita mengenali siapa diri kita. Tetapi sesungguhnya, siapa diri kita itu adalah jauh lebih luas dan tidak terbatas dari anggapan atau ide tentang diri kita itu sendiri. Jadinya anggapan atau ide tentang diri kita itu malah justru bisa menutup pengetahuan tentang diri kita sendiri dan bahkan menjadikan kita tidak mengetahui siapakah diri kita yang seungguhnya.

Buku “Ada Apa Dengan Aku” ini pasti akan mengajak kita meneropong diri kita secara mendalam dengan menumbuhkan pertanyaan-pertanyaan ; ada apa dengan diri kita, ada apa dengan aku, siapakah sesungguhnya aku itu? Pertanyaan-pertanyaan yang pasti akan membuka horizon kesadaran kita sebagaii makhluk luhur bernama manusia dan dengan begitu memberikan penghargaan yang setinggi- tingginya kepada diri kita sendiri, kepada kehidupan ini, kepada kelahiran kita sebagai manusia di dunia ini.

Melalui filsafat jalan tengah “Madhyamika” yang dikembangkan filsuf agung Nagarjuna, masalah aku dalam diri manusia itu ditelaah secara epistemology: apakah sesungguhnya aku itu? Bagaimana sebenarnya konsep Buddhis tentang aku yang dikatakan sebagai tiada aku (anatta) dan sunya (kosong) itu? Adakah jawaban itu melampaui batas- batas nalar dan hanya dapat dialami dalam hening meditasi dan terang prajna?

Adakah dengan bersikap mengembangkan kesadaran pencerahan yang tumbuh melampaui batas-batas nalar bahwa aku sesungguhnya tidak dapat dikenali hanya secara konseptual kita justru melangkah mendekati kebenaran yang membebaskan? Inilah buku yang mengajak kita untuk berani menjawabnya dengan menuntaskan nalar anggapan tentang aku sebelum menjalani dan mengalami keheningan!

Posted in Books | Leave a Comment »

Komunikasi dan Dharmaduta

Posted by yasodhara on January 20, 2009

Komunikasi dan Dharmaduta

Komunikasi dan Dharmaduta

Komunikasi dan Dharmaduta

Penyebarluasan Buddhadharma sudah diletakkan oleh Sang Buddha semenjak pencapaian penerangan sempurnaNya. Penyebaran ajaran sebagai misi pembebasan atas penderitaan manusia dan segenap makhluk itu secara institusional mendapat momentumnya ketika Sang Buddha mengungkapkan ajaranNya kepada lima orang pertapa di Taman Rusa Isipatana, yang kemudian diperingati sebagai hari suci Asadha atau hari Pemutaran Roda Dharma (Dharmacakkha Pavatthana Sutta) pertama kalinya.

Sejak awalnya, Buddhadharma sudah bersifat missioner, karena kepada siswa-siswaNya pun Sang Buddha menganjurkan untuk menjalankan peran sebagai Dharmaduta yakni menyebarluaskan Buddhadharma ke segala pelosok negeri demi kebahagiaan orang banyak, demi pembebasan manusia dari penderitaannya. Tugas sebagai Dharmaduta telah diletakkan oleh Sang Buddha, dan adalah kewajiban bagi para penerus dan siswa-siswaNya sekarang ini untuk melanjutkan tugas mulia yang luhur dan historis ini.

Kegiatan mulia sebagai Dharmaduta menyebarluaskan Buddhadharma dan mengemban misi pembebasan itu merupakan suatu bentuk kegiatan komunikasi, dan karenanya dapat dilakukan dengan berbagai cara dan berbagai macam media komunikasi. Sesuai dengan jaman yang semakin maju dan berkembang, maka pengenalan dan penguasaan berbagai macam bentuk media komunikasi itu sangat diperlukan di dalam menunjang kegiatan dharmaduta dan keberhasilan mewujudkan misi emansipatoris Buddhadharma

Buku” Komunikasi dan Dharmaduta” yang berisikan topik-topik ringkas seperti: pengantar komunikasi, Dharmaduta sebagai profesi dan pengabdian, retorika dan teknik ceramah, komunikasi massa, jurnalistik dan teknik menulis serta Buddhadharma kontekstual yang memberikan dasar pemahaman tentang dasar komunikasi dan Dharmaduta ini kiranya dapat dijadikan penunjang bagi keberhasilan tugas Dharmaduta dalam mengemban perannya sebagai komunikator dharma di tengah kemajuan dunia dewasa ini.

Posted in Books | Leave a Comment »

BuddhaDharma dan Kesetaraan Gender

Posted by yasodhara on January 20, 2009

BuddhaDharma dan Kesetaraan Gender

BuddhaDharma dan Kesetaraan Gender

BUDDHADHARMA dan KESETARAAN GENDER

Semaraknya studi mengenai feminisme dan kebangkitan gerakan kesetaraan perempuan yang juga menyentuh wilayah agama pada akhirnya juga muncul dan berkembang di lingkungan Buddhist dengan para tokoh feminisnya.

Buku ini memuat berbagai topik permasalahan yang berupaya memikirkan kembali mengenai dasar-dasar dan pemahaman Buddhadharma sehubungan dengan kesetaraan gender, kedudukan dan posisi perempuan dalam Buddhadharma. Selain itu terekam juga gerakan emansipasi perempuan dalam memperjuangkan kesetaraannya di dalam sejarah agama Buddha dan perkembangannya hingga kini dengan segala lika-liku dan tantangannya.

Seluk beluk maupun sumber munculnya pemikiran kesetaraan dan gerakan feminism dalam Buddhadharma itu tergambar dengan jelas di dalam berbagai tulisan para penulis yang beragam latar belakang: akademisi, jurnalis, aktivis maupun Sangha perempuan atau Bikkhuni, sehingga menjadikan buku ini kaya akan inspirasi bagi tumbuhnya kesadaran pencerahan mengenai kesetaraan gender maupun gerakan emansipasi yang menyertainya.

Posted in Books | Leave a Comment »

Permata Tridharma

Posted by yasodhara on January 15, 2009

Permata Tridharma

Permata Tridharma

Permata Tridharma

Tridharma yang terdiri dari tiga ajaran: Buddha, Lao Tzu dan Kong hu cu, telah lama memiliki penganutnya di Indonesia, khususnya di kalangan peranakan Tionghoa, yang menganggap dirinya sebagai penganut agama Buddha yang juga mempelajari dan menghayati Taoisme dan Konfusianisme.

Bagi komunitas atau masyarakat Tridharma, ketiga ajaran tersebut memang sungguh-sungguh diyakini sebagai suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, saling melengkapi satu sama lain, diyakini dapat mengantar mencapai pembebasan, melalui tumbuhnya kesadaran Tao, dan perilaku bajik manusiawi serta pencapaian kebahagiaan hidup di dunia ini sekarang juga.

Buku Permata Tridharma, ini merupakan kumpulan tulisan mengenai berbagai aspek dari tiga ajaran tersebut: Buddha, Taoisme, Konfusianisme, serta mengenai kesatuan Tridharma itu sendiri, lengkap dengan sejarah dan perkembangannya di Indonesia. Ditulis sendiri oleh seorang umat Tridharma, dan pelaku sejarah pergerakan Tridharma di Indonesia, Dharmaduta Tridharma dan pemimpin organisasi serta Majelis Agama Buddha Tridharma yang telah mengabdikan dirinya untuk Tridharma Indonesia selama lebih lima puluh tahun.

Karenanya,buku karya Maha Pandita Sasanaputera Satyadharma yang dilengkapi juga dengan tulisan-tulisan yang bersifat renungan, puisi maupun kutipan-kutipan mengenai tiga ajaran ini merupakan sebuah buku yang unik dan menarik. Buku yang dapat menjadi rujukan untuk mengenal Tridharma dalam perkembangan agam Buddha di Indonesia, yang mencerminkan akan adanya pluralitas beragama di lingkungan agama Buddha, serta permata dari kekayaan kehidupan beragama yang ada di bumi Nusantara.

Posted in Books | Leave a Comment »

Pokok-Pokok Dasar Mahayana

Posted by yasodhara on January 15, 2009

Pokok-Pokok Dasar Mahayana

Pokok-Pokok Dasar Mahayana

Pokok-Pokok Dasar Mahayana

Mahayana merupakan salah satu mazhab atau aliran terpenting dalam agama Buddha, dimana ajaran-ajarannya yang lebih bersifat filosofis dan agamis itu telah turut berperan besar dalam menumbuhkan suatu corak khas perkembangan agama Buddha dan kebudayaan Buddhist yang mempengaruhi banyak umat manusia di dunia.

Kedudukan dan keunikan Mahayana dalam keseluruhan Buddhadharma, serta keistimewaan Mahayana itu akan segera dapat diketahui bila memahami pokok-pokok bahasan dalam buku ini, seperti: latar belakang, sejarah tumbuhnya, sumber-sumber ajaran, sutra-sutra, maupun cirri-ciri pokok Mahayana yang menunjukkan persamaan dan perbedaannya dengan aliran atau mazhab agama Buddha lainnya.

Sedangkan kekayaan makna Buddhadharma yang menumbuhkan kecerdasan spriritual akan segera dapat ditangkap bila memahami konsep-konsep utama Mahayana, seperti: Trikaya, Samvrti-Satya dan Paramartha Satya, Pudgala Nairatmya, Nirvana dan Samsara. Bodhisatva dan Sad Paramita, Dasabhumi dan Upaya Kausalya, Tathata, Dharmadhatu, dan Bhutakoti. Fenomena Manusia dan Alaya Vijnana, serta Alam Kehidupan dan jalan pembebasan, maupun Puja Bakti dalam Mahayana,

Selain itu perkembangan Mahayana yang menghasilkan beberapa aliran, seperti: Yogacara, Madyamika, Tantra, C’han atau Zen Buddhisme, Avatamsaka, Sukhavati, Thien Tai, serta ciri-ciri Mahayana yang terdapat dalam Candi Borobudur, memperlihatkan kepada pembaca akan keindahan dan keluhuran Buddhadharma di dalam menghantar umat manusia mencapai pencerahan spiritualnya.

Semua pokok bahasan itu tersaji dalam buku ini secara singkat dan padat sebagai sebuah buku pengantar yang memudahkan pembaca di dalam memahami dan memasuki samudera Mahayana yang dalam dan luas. Selain itu, buku ini juga dapat dipandang sebagai sebuah pintu dharma yang akan membuka kesadaran pembaca bagi tumbuhnya kecerdasaan dan pencerahan spiritual.

Posted in Books | Leave a Comment »

BUDDHADHARMA DAN POLITIK

Posted by yasodhara on January 15, 2009

BuddhaDharma dan Politik

BuddhaDharma dan Politik

BUDDHADHARMA DAN POLITIK

Ditengah arus kehidupan politik yang semakin terbuka dan demokratis, mengandung daya tarik dan semarak ini, sudah sepantasnya bila setiap warga Negara dapat memahami hakekat politik yang sesungguhnya, politik yang tidak terpisahkan dari moralitas, etika dan nilai-nilai agama.

Adakah spiritualitas dan legitimasi Buddhadharma mendukung umatnya untuk melakukan keterlibatan politik? Berpolitik yang bagaimanakah yang semestinya diperankan dan dilakukan oleh para politisi Buddhist? Adakah panduan Buddhadharma bagi umat Buddha dalam memilih para pemimpin politisnya?

Itulah percik-percik pertanyaan mengenai kehidupan politik yang dijawab dalam buku “Buddhadharma dan Politik” melalui sejumlah topik seperti: hakekat manusia yang berpolitik, agama dan Negara, kepemimpinan, hukum dan rakyat, kekuasaan dan korupsi, politik kemanusiaan, hak asasi manusia dan kebebasan beragama, moralitas politik, maupun keterlibatan politis tokoh Buddhist.

Topik- topik tersebut diselami secara reflektif-filosofis, dan disajikan secara ringkas namun padat sehingga memudahkan pembaca untuk dapat memahami hakekat politik yang sesungguhnya serta menghantar kepada tercapainya pencerahan politis.

Posted in Books | Leave a Comment »

BuddhaDharma dan Sexualitas

Posted by yasodhara on January 15, 2009

BuddhaDharma dan Sexualitas

BuddhaDharma dan Sexualitas

Buddhadharma dan Seksualitas

Seksualitas merupakan fenomena yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Seturut dengan perkembangan jaman yang semakin maju dan demokratis, maka seks pun semakin tidak lagi tabu untuk dibicarakan. Lebih dari itu, seks yang semakin terbuka itu ternyata juga merembes dalam berbagai pola pergaulan manusia sekarang melalui macam-macam perwujudannya.

Maraknya keterbukaan seksualitas dalam berbagai macam bentuk dan prilakunya itu juga dikhawatirkan akan semakin meredupkan nilai moralitas dan spiritualis seksualitas itu sendiri. Seksualitas yang jauh dari kasih sayang dan tanggung jawab manusia. Seksualitas yang hanya mencerminkan kecenderungan banyak orang dalam menafsirkan kehidupan dari tolok ukur nilai keberadaannya saja.

Apakah seks telah sungguh-sungguh berubah menjadi bukan apa-apa kecuali sekedar alat untuk memperoleh kenikmatan? Apakah seks telah sungguh sungguh sama sekali lepas dari unsur spiritual? Adakah seks memang sesuatu yang negative dan harus diemohkan sama sekali dalam menggapai kesadaran kebuddhaan? Apakah moralitas mengenai seksualitas mengekang kebebasan dan mengerdilkan kesadaran moral manusia? Bagaimanakah hubungan seksualitas dalam perjalanan spiritual dan cita-cita kesempurnaan seorang Buddhis?

Itulah sebagian dari beragam masalah seksualitas yang terdapat dan diungkapkan dalam buku Buddhadharma dan Seksualitas ini. Dengan tanpa sungkan berbagai tulisan dalam buku ini mengangkat masalah-masalah seksualitas yang berkembang di dalam berbagai segi kehidupan, pola pergaulan dan perilaku manusia saat ini. Semuanya itu dicoba didekati dari perspektif Buddhadharma dan diletakkan dalam kerangka keseluruhan perjalanan cita-cita spiritual seorang Buddhist.

Posted in Books | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.