Yasodhara Puteri

Mencerdaskan…Mencerahkan….

THE GODDES OF MERCY PUTRI MIAO SHAN

Posted by yasodhara on February 10, 2009

IN THE NAME OF GUAN YIN

Kisah Welas Asih Bodhisattva Avalokitesvara

Di awal film The Goddes of Mercy, terdengar suara sebagai Hyang Buddha yang menyatakan Bodhisattva Avalokitesvara yang akan menitis ke dalam jasad perempuan di negeri Mi Chuang adalah bukanlah suatu persoalan. Disitu ditegaskan,  bukankah penderitaan perempuan itu lebih besar ketimbang lelaki.

Kemudian Sang Bodhisattva Avalokitesvara sendiri lalu menyatakan, biarkan Aku menjadi perempuan demi melepaskan penderitaan orang, dan menjadi teladan bagi kaum perempuan yang sama setaranya dengan kaum lelaki. Itulah penggalan dialog dan tayangan tentang Bodhisattva Avalokitesvara yang hadir  sebagai perempuan dalam sosok Dewi Guan Yin dan yang lebih dikonkritkan lagi dalam legenda China tentang Putri Miao Shan.

Adakah yang salah dan keliru, bila Bodhisattva Avalokitesvara yang merupakan cerminan konsep filsafat Mahayana tentang Sambhogakaya (satu dari Trikaya) atau ketubuhan Buddha yang tidak tampak, tubuh rahmat, tubuh cahaya yang memancarkan energik dan vitalitas kasih sayang terpersonifikasikan dalam wujud sosok  perempuan?

Sosok Feminim

Apakah sosok feminim atau perempuan kurang cinta kasih dan welas asihnya ketimbang sosok lelaki atau malah sebaliknya? Dalam legenda putri Mio San yang tumbuh menjadi keyakinan terhadap personifikasi Bodhisattva Avlokitesvara justru datang sebagai perempuan, padahal  kerajaan Mi Chuang saat itu membutuhkan seorang putra mahkota.

Kedatangannya ini memperlihatkan bahwa kelahiran seorang anak perempuan itu adalah setara dengan lelaki bahkan lelaki  sebagai putra mahkota kerajaan sekalipun.  Perwujudan  ini  mau menyatakan bahwa  cinta kasih, kasih sayang itu tidak mengenal batas-batas jender.

Namun, ditengah-tengah masih membatunya ideologi patriarki masa itu, kehadiran puteri Miao Shan sebagai puteri ke tiga kerajaan Miao Chang  yang berani dan bebas menentukan jalan hidupnya sendiri, tidak mau dijodohkan seperti kebanyakan perempuan pada umumnya masa itu, dan berani mengambil jalan kehidupan sebagai rahib-bhiksuni, justru dianggap sebagai guncangan terhadap tatanan budaya dan tradisi dengan ideologi patriarkinya yang memapankan kedudukan dan status lelaki.

Namun, apakah cinta kasih dan kasih sayang harus tersekat oleh jender, budaya dan tradisi?  Melampaui batas-batas jender, budaya, dan tradisi,  Bodhisattva Avalokitesvara hidup sebagai cerminan nilai welas asih dan kasih sayang yang suka membantu tanpa batas tanpa kenal lelah tanpa mogok dengan tangan seribunya. Dan doa.  Pujaan,  permohonan kepadanya pun tumbuh dan hidup di dalam setiap hati orang yang meyakininya.

Karena itu, hati siapa yang tidak tergetar bila menyebut nama Avalokitesvara? Bodhisattva yang diwujudkan dalam figur perempuan dan sangat popular dipuja umat Buddha di berbagai kebudayaan dan banyak negara seperti Cina, Korea, Jepang, dan negara2 Asia Tenggara juga di Indonesia  ini.

Guan Yin telah menginspirasi orang Asia karena menjelaskan peran pokok yang harus dilakukan yakni praktik ajaran Buddha tentang welas kasih. Kisahnya yang terpendam dalam pemahaman Bodhisattva Avalokitesvara  terekspresikan dalam  legenda, sejarah, puisi, filsafat, praktik keagamaan, dan gambar-gambar serta seni pahat yang bertebaran dimana-mana.

Adakah yang salah dengan pemujaan kepada welas asih ini di dalam nama Guan Yin, sebagai keluhuran Kebuddhaan yang mampu melihat dan mendengar tanpa batas, dalam kekosongan (sunyata) tanpa membeda-bedakan, dan menjadi dewi penolong semua makhluk dengan kasih sayangnya yang universal?

Melalui pemujaan terhadap Bodhisattva Avalokitesvara inilah, membuktikan agama Buddha dapat tumbuh subur dan berkembang di berbagai negara dan budaya. Melalui legenda negeri Cina,  Bodhisattva Avalokitesvara  dikenal juga sebagai Puteri Miao Shan, perwujudan dari The Goddes of Mercy, dewi welas asih, yang berwujud feminin dan memperlihatkan keluhuran agama Buddha yang berkata “ya” terhadap kesetaraan gender.

Dalam film The Goddes of Mercy, kita juga dapat saksikan ujar-ujar bijak nan cerdas yang mencerminkan keluhuran Buddhadharma sebagai ajaran kasih yang tanpa batas, kasih sayang melawan diskriminatif, kasih sayang yang satu adanya mengatasi segala dikotomi gender dan perbedaan yang ada. Bahwa pencerahan seseorang adalah juga karya pembebasan di dalam menolong makhluk lain yang menderita.

Kasih Sayang Tak Terbatas

Karenanya, sebagai perwujudan konsep Sambhogakaya (tubuh cahaya, tubuh rahmat), satu dari ajaran Trikaya (Tiga Tubuh Buddha) dalam Mahayana, prajna (kebijaksanaan pencerahan) dan karuna (welas asih dalam pembebasan) itu tiada saling terpisahkan. Pencerahan dan kasih sayang, pandangan terang dan pembebasan adalah  dimensi-dimensi luhur dari sunyata (kekosongan).

Dalam film The Goddes of Mercy yang mengisahkan satu dari sekian versi legendanya sebagai puteri Miao Shan, penjelmaan Bodhisattva Avalokitesvara di dunia, memperlihatkan keindahan dari kesempurnaan perwujudan prajna (kebijaksanaan, kecerdasan spiritual) dan karuna (kasih sayang, kecerdasan sosial), dan kesetaraan perempuan dengan lelaki di bidang spiritual.

Bagaimana puteri yang kelahirannya tidak diharapkan lantaran ia bukan seorang putra itu memberi pelajaran tentang kebijaksaan dan kasih sayang kepada para lelaki yang berlumur kekuasaaan dan kekuatan duniawi. Bahwa kasih sayang, perdamaian, sikap non-kekerasan adalah kekuatan dan puncak dari keberhasilan.

Melalui hasil pencerahannya sebagai Phusat (Bodhisattva) puteri simbol welas asih ini juga memberi pelajaran tentang hakekat kehidupan, makna penderitaan manusia serta peluang mencapai pencerahan dan pembebasan dari lorong penderitaan. Bahwa manusia dilahirkan dalam dunia yang penuh penderitaan.

Untuk itulah sudah menjadi tugas Bodhisattva Avalokitesvara untuk membebaskan derita manusia itu, karena dia memiliki karakter welas asih dan murah hati. Dengan melepaskan umat manusia dari segala kesusahan dan penderitaan, maka puteri Miao Shan ini sekaligus mencapai kekosongan pencerahan sejati.

Kesadaran kekosongan itu (sunyata) tanpa batas, tanpa keterikatan, dan semata ketenangan murni, bebas dari segala keterikatan duniawi atau dikotomi, dualisme: pikiran ini dan pikiran itu, ada dan tiada, abosolut dan manifestasi, tampak dan tak tampak, historis dan mistis. Perasaan mengombang-ambingkan ke dalam perbedaan, tiada pendirian karena tidak melihat hakekatnya yang terdalam.

Bila mata batin telah tercerahkan mengatasi dualisme, maka kelahiran baik sebagai raja dan rakyat itu sama saja, hari lalu hari esok adalah hari ini, bencana dan keberuntungan sama saja, langit di luar langit di dalam bersatu dalam hati yang damai, sebagaimana juga tak ada kebahagiaan tanpa adanya penderitaan.

Dalam nama Guan Yin yang selalu dipuja dan dihormati karena beliau tak henti melihat dan mendengar penderitaan banyak makhluk dalam kesunyataannya, kasih sayang itu mewujud tanpa batas tanpa bias! Om Mani Padme Hum!  (Jo Priastana).

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.