Yasodhara Puteri

Mencerdaskan…Mencerahkan….

PERSAHABATAN DAN CINTA DALAM METEOR GARDEN

Posted by yasodhara on April 3, 2009

JANGAN TAKUT BERSIKAP TERBUKA

Banyak orang menilai, kisah persahabatan sejati diantara empat tokoh utamanya, itulah yang menjadikan film Meteor Garden digemari. Tentu saja disamping daya tarik keempat tokoh itu sendiri yang rupawan, charming, enak dipandang, kisah cinta Dao Ming She dengan San Chai (Barbie Xu) untuk mencapai hubungan puncak yang tersendat-sendat juga menjadi daya tarik sinetron itu.

Relasi persahabatan dari keempat tokoh F4 itu: Dao Ming Shi (Jerry Yan), Wu Zhe Lei (Victor Zhou), Xi Men (Ken Zhu), Me Zhuo (Vannes Wu) yang sangat dirindukan banyak penonton itu seakan-akan mencerminkan persahabatan sejati seperti yang terdapat dalam ajaran Buddha.

Keempatnya selalu siap berlaku sebagai sahabat sejati terhadap yang lainnya; yang selalu sedia baik dalam susah maupun senang, dan menunjukkan jalan yang terbaik dan benar bagi sahabatnya, serta kejujuran dan kebebasan (tak ada tekanan diantara mereka).

Sahabat dan True Love

Ditengah-tengah proses pendewasaan dirinya, para anggota F4 itu dimatangkan dalam persahabatan sejati diantara mereka, seakan relasi diantara mereka mencerminkan ajaran Buddha dalam Sigalovada Sutta yang berbunyi:

Menjaga sahabatnya sewaktu lengah, menjadi pelindung kala dalam kesulitan, memberi bantuan setinggi-tingginya, menceritakan rahasia atau kesulitannya serta menjaga rahasia sahabatnya, tidak meninggalkan dikala sahabat dalam kesulitan., bersedia berkorban demi sahabat, mencegah berbuat jahat, menganjurkan berbuat baik, memberi tahu, menunjukkan jalan kepada kebaikan.

Sepertinya mereka paham bagaimana sesungguhnya seorang sahabat bersikap. Lihatlah bagaimana Siau Shuan, mantan anak Panti Asuhan yang punya dendam terhadap Dao Ming She dinasehati Wu Zhe Lei, “Jika di dalam bayangan hatimu tidak dapatkan kebebasan, maka tak bisa kau rasakan kejujuranmu dan kebebasan. Hubungan antar manusia jika tidak saling jujur maka tidak dapatkan kebebasan.

Dari relasi persahabatan itu juga tergambar terjadinya proses pendewasaan diri masing-masing anggota F4. Begitu pula dalam kisah cinta Dao Ming She dan San Chai yang mirip Cinderella di alam demokratis ini. Perjalanan cinta mereka mencapai hubungan puncak yang mendapatkan banyak halangan, baik internal dari dalam diri sendiri, sulit bersikap terbuka maupun ekstenal, lingkungan, keluarga, bisa memberi gambaran tentang sebuah perjalanan cinta yang anggun, namun juga renungan bagaimana untuk tidak takut bersikap terbuka.

Kekuatan cinta itu memang hebat. Dan True Love membuat orang yang mengalaminya jadi serba salah. Dao Ming She seakan atau telah berteriak kepada San Chai, “Aku mau kamu tahu, yaitu aku mau kamu.” Tapi justru ucapan itu membuat San Chai jadi tersipu-sipu, serba malu, namun juga merasa surprise. San Chai jadi tidak dapat bersikap terbuka. Kata orang, pacaran itu perlu punya perasaan, baru bisa buat orang bergairah. Lalu, larilah San Chai, dan Dao Ming She pun dibuatnya kembali bergairah.

Lain kesempatan datang the other women di sisi Dao Ming She, dan San Chai pun kembali dirudung cemburu namun berusaha bersikap anggun meski harus menekan perasaan yang sebenarnya dengan begitu rapat. Dalam hati San Chai berkata, “Saya malu bicara tentang perasaanku. Orang lain tentu tidak suka kalau saya mengucapkan semua perasaan: bahwa saya senang, malu, muak atau tertarik. Lebih baik main sedikit sandiwara.”

Membuka Diri

Memang sedikit bersandiwara, bisa mencerminkan keanggunan seorang perempuan kala dia jatuh cinta. Tapi kalau dalam persahabatan selalu diwarnai sandiwara tentu saja hubungan akan tetap dangkal sedangkal air di pantai. Pribadi mungkin juga tidak akan berkembang. Kalau main sandiwara terus, main peran yang bukan peran kita sendiri, pasang topeng yang bukan wajah kita sendiri, kita tidak pernah akan bertemu, tidak akan pernah merasakan persahabatan sejati atau kesatuan, pertemuan, encounter.

Persahabatan itu perlu membuka diri. Dan ini juga berlaku dalam kasih-mengasihi. Meski yang terakhir ini pun perlu pula memperhatikan keanggunan dan keindahan. Kalau setiap orang tinggal dalam bentengnya sendiri, tak terbuka, tak ada komunikasi, tak ada tukar menukar pengalaman atau perasaan tak akan terjadi perkembangan meski mungkin diantara mereka banyak omong.

Setiap orang itu sesungguhnya punya begitu banyak feelings. Punya begitu banyak perasaan, hasrat, keinginan, dan begitu banyak yang bagus. Setiap hati itu kaya. Mengapa mau dikunci? Mengapa disimpan dalam bentengmu? Mengapa tidak kita bagi satu sama lain. Mengapa kita terus begitu menyendiri?

Komunikasi itu perlu, karena dengan begitu kita punya hal yang sama, something in common. Mengapa mesti takut mengatakan siapa dirimu itu. Bukankah kita bersahabat. Jangan khawatir nanti teman tidak suka. Ya mengungkapkan diri secara jujur memang menuntut keberanian. Selalu ada risiko. Tetapi risiko itu sesungguhnya tidaklah bermasalah banget bila dibandingkan dengan diri yang berkembang. Tanpa komunikasi yang sungguh dari hati ke hati, kepribadian tidak dapat menjadi dewasa.

Banyak pengetahuan, bisa tukar-menukar dan mungkin otak pun dapat bertambah Tapi bila tidak menyertai perasaan di baliknya, maka mana mungkin hati dan diri berkembang.. Manusia hanya berkembang dan membina kepribadian dalam komunikasi dengan sesamanya. Harus dapat saling percaya-mempercayai. Kita perlu akan persahabatan, akan kepercayaan, dan akan kasih sayang.

Encounter

Di dalam dua hati mereka yang bersahabat dan berkasih akan muncul sesuatu yang baru. Itu berkat “encounter” pertemuan perasaan dan hati mereka. Entah itu terjadi ketika mereka sedang berada di pantai yang sepi, di kafe, di bioskop atau di ruang kerja. Tetapi banyak orang meski matahari sudah terbenam, malam sudah setengah habis, waktu berpisah sudah tiba, tetap saja tidak juga hilang rasa takutnya untuk mengatakan siapa dirinya, bagaimana perasaan sesungguhnya. Tetap saja tidak berani untuk bersikap terbuka.

Bila mau bersahabat atau berani jatuh cinta, tentunya harus berani juga besikap terbuka! Dalam bahasa ilmu jiwa ‘pertemuan’ atau ‘encounter’ menggambarkan sebuah hubungan khas antar dua pribadi. Itulah suatu persatuan atau hubungan ‘antar-pribadi’ yang sudah tercapai. Gabriel Marcel (1889) seorang filsuf eksistensialis berkebangsaan Perancis menyebut pertemuan itu sebagai “an ontological communion,“ suatu pembauran dari hati dua orang yang sesungguhnya.

Dalam encounter itu, bila dua orang sungguh-sungguh bertemu, dan mereka itu pun tidak selalu mengutamakan persoalan-persoalan yang mereka alami masing-masing atau menyangkut cara-cara menyelesaikan persoalan itu. Mereka hanya ada bersama dan hanya akan merasakan dan menghayati kebersamaan. Saya membuka diri saya kepada saudara dan mempersilahkan saudara masuk.

Dalam pertemuan sejati pihak lain bukan lagi seorang yang asing. Kedua pihak telah menjadi engkau dan aku, (Ich und Du) yang masing-masing sangat peka terhadap apa yang dialami pihak yang lain. Secara aneh dan sukar dijelaskan dia menjadi seorang istimewa di mata saya, atau malah bagian dari dunia dan diri saya. Kita masuk ke dalam hidupnya sejauh mungkin dan dia masuk ke dalam hidup saya. Terjadilah semacam persenyawaan dalam kebersamaan, meski kita tetap memegang kepribadian kita masing-masing: “Satu bukannya separuh dari dua, melainkan dua adalah separuh tambah separuh dari satu.”

Saat kebersamaan dan persenyawaan itulah, mereka bagaikan dua alat musik yang memainkan nada-nada serta irama yang persis sama dan mengeluarkan lagu yang sama pula. Dan mungkin, pada taraf inilah puncak hubungan yang dimaksud oleh Sang Buddha untuk dicapai. Hubungan dua anak manusia berkasih yang mencapai samma sraddha, samma sila, samma prajna, dan samma cagga.

Dalam kisah F4 di Meteor Garden mungkin terlihat percik-percik persahabatan sejati itu. Begitu pula percikan encounter antara Dao Ming She dan San Cai. Tetapi hubungan puncak diantara keduanya ini masih membutuhkan pendakian. Dan karena itulah, kelanjutan kisah diantara mereka pun masih banyak yang menantikannya, menjadikan serial sinetron berkelanjutan sebagaimana cermin dari kehausan banyak orang akan persahatan sejati, keterbukaan dan cinta.! (Jo Priastana).

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.