Yasodhara Puteri

Mencerdaskan…Mencerahkan….

Archive for the ‘Desana’ Category

KESEMPURNAAN SVASTIKA KEMENANGAN DARI PENDERITAAN

Posted by yasodhara on February 8, 2009

Dalam bahasa Sansekerta Svastika berarti “all is well” yang dapat diartikan sebagai “segalanya adalah baik”. Arti yang selaras dengan gambarnya yang berupa empat tangan yang sama panjangnya, dan yang gambar ini pun menunjukkan kesempurnaan karena kalau dibalik atau diputar kemanapun dan pada posisi arah manapun akan tetap sama sempurnanya seperti itu.

Symbol yang telah ditemukan sejak jaman dahulu dan dipergunakan di banyak tempat, baik di Mesir, Roma, Yunani, Persia dan khususnya di India ini juga terdapat di dalam lingkungan Buddhis, kata Sankrit yang berarti “good fortune, luck and well being.” Svastika dikatakan berisikan seluruh kesadaran Buddha dan dapat ditemukan terekam di dalam berbagai macam “Buddha images”. Svastika merupakan juga symbol pertama dari sejumlah 65 simbol Buddha. (Damien Keown, A Dictionary of Buddhism, 2003).

Sebagai symbol yang pertama svastika sering juga digunakan sebagai tanda yang mengawali permulaan kali pembelajaran Buddharma, yakni mengenai Hukum empat kesunyataan Mulia (Cattari Ariya Saccani) yang merupakan hukum kesunyataan dimana Buddha membabarkan ajarannya pertama kali, yaitu: kesuyataan tentang dukkha, kesunyataan tentang sumber dukkha, kesunyataan tentang akhir dukkha, dan kesunyataan tentang jalan melenyapkan dukkha.

Dengan begitu, svastika yang juga mengacu kepada empat kesunyatan mulia memiliki makna yang sangat dalam yang menyangkut inti dan maksud dari dharma yang diajarkannya yaitu mengenai “penderitaan dan pembebasan,” seperti yang sering dikatakannya juga. Pesan ini sekaligus menunjukkan makna sejati dari peran dan tugas luhur Sang Buddha yang berkarya demi kebahagiaan semua makhluk, sebagaimana pekik kemenangannya ketika mencapai Buddha yang mengawali terbebasnya dari penderitaan.

Karena itulah, svastika tidak lepas dari tugas dan peran Sang Buddha di dalam mengatasi penderitaan. Ada penderitaan, ada sumber penderitaan, ada lenyapnya penderitaan dan ada jalan melenyapkan penderitaan. Inilah simbol solidaritas dengan mereka yang menderita dari seorang Buddha yang selalu mendengarkan dan mengunjungi berbagai lapisan masyarakat yang menderita, tidak hanya dari stratifikasi social yang diatas namun juga kepada masyarakat marginal, seperti mereka yang buta, bisu, tuli, lumpuh, lapar, haus, telanjang, dan tunawisma, dan kaum perempuan yang juga turut diangkatnya ke level paling tinggi kesetaraan dalam kesucian.

Ruang lingkup solidaritas dari tokoh utama di dalam agama Buddha ini tidak hanya berhenti pada level personal semata namun juga level social. Buddha bukan orang penakut yang menghindari bila harus berkonfrontasi dengan struktur kekuasaan dan tirani nilai budaya diskriminatif maupun melawan kekuasaan politik-religius pada masa itu. Melalui svastika, symbol ajaran pertama kalinya itu, Buddha menyadari akan peran dan tugasnya dalam amanat penderitaan manusia bahkan penderitaan semua makhluk.

Melihat svastika yang menyimbolkan “kesempurnaan” atau kemenangan atas penderitaan itu mengartikan pula bahwa kita harus bergumul terlebih dahulu dengan berbagai bentuk penderitaan. Kita diundang untuk melawan setiap bentuk penderitaan baik dalam level personal-individual maupun social-kontekstual, baik dalam gejalanya, penyebabnya maupun cara atau jalan mengatasinya. Sebab dalam kaca mata svastika dengna kata sansekertanya itu, “kesempurnaan” nirvana itu bukanlah semata bermakna personal dan individual, religius, filosofis semata namun juga social-kolektif, spiritual dan emansipatoris.

Bersama svastika yang diputar Sang Buddha pertama kali, maka dengan menyesuikamn konteks saat ini kita pun akan mampu melihat realitas penderitaan di Indonesia. Adanya banjir, gempa bumi, dan tanah longsor yang memperburuk kondisi kemanusiaan, seperti dalam antrean panjang korban bencana kemanusiaan, kelangkaan beras yang dialaminya yang semuanya itu menanti untaian solidaritas dan karya social yang bukan sekedar dijadikan obyek untuk mengangkat popularitas di depan public layaknya politikus atau selebritis namun sungguh-sunguh dengan amanat agung demi pembebasan penderitaan.

Dengan etos dan spiritualitas solidaritas putarlah svastika ke segala arah agar menjadi tanda kesempurnan, kemenangan atas penderitaan, dimana semua sisi-sisi dalam empat kesunyataan itu menjadi nyata dan kontekstual. Jalan kemenangan itu tampak di dalam kesetiakawanan dan solidaritas terhadap mereka yang mengalami penderitaan baik yang sudah ada secara inheren maupun yang terwujud secara structural sebagai korban kekerasan dan ketidakadilan.

Kemanapun arah svastika itu diputar atau dibalik, kemenangan atas penderitaan senantias menanti, sebagaimana Buddha yang membalikkan penderitan menjadi pekik kemenangan dan menciptakan kondisi kehidupan dan tata nilai manusiawi yang sesuai dengan Dharma penuh damai, sejahtera sebagaimana kabar Dharmanya yang membahagiakan. Kemanapun angin berhembus tak akan dapat melawan dari kebajikan berputarnya svastika.

Maka sebagaimana penderitaan yang telah ada sejak manusia menyejarah di bumi ini, para siswa sejati yang menjadi perpanjangan tangan dan hati Buddha pun sepanjang abad ke abad telah menggerakkan svastika ke segala penjuru menjumpai berbagai fenomena penderitaan dan mewujudkan segala tekad dan upayanya membuka selubung belenggu penderitaan selalu di dalam semangat persaudaraan agung dan kerukunan dalam karya dharma yang mencerahkan dan menjadi sumber inspirasi di segala jaman (Jo Priastana).

Posted in Desana | Leave a Comment »

CAKRAWALA DHARMA

Posted by yasodhara on February 8, 2009

Adalah para Yang Ariya yang dengan mata kebijaksanaannya mampu melihat Dharma (Sansekerta) atau Dhamma (Pali), sebuah kata yang melingkupi makna yang sangat luas. Kenapa para ariya? Karena para ariya adalah orang yang telah tersucikan, orang yang telah mengatasi dukkha, yang telah menembus Dhamma bahwa hakekat “segala sesuatu adalah tanpa inti yang kekal.” “Sabbe dhamma anatta’ti, yada pannaya passati. Attha nibbindati dukkhe, esa maggo visuddhiya.” “Segala sesuatu adalah tanpa inti (yang kekal).

Yang ariya yang telah mencapai kesempurnaan, yang telah memahami Dharma, menunjukkan bahwa Dharma merupakan jalan untuk mencapai kesucian, dan jalan untuk mencapai kesucian, kesempurnaan ini hanya dapat dipahami dengan setepat-tepatnya dan juga dibabarkan oleh mereka yang telah mencapai kesucian.

Pengertian Dharma (Dhamma) itu sendiri memang mengandung makna yang sangat luas dan dalam, bagaikan cakrawala tak bertepi. Mahavagga: “Dhamma ini amat dalam, sukar diketahui, sukar dipahami, luhur, amat dalam, mengatasi pemikiran, halus dan hanya dapat diselami oleh para bijaksana (yang telah mencapai Penerangan Sempurna).

Prof. Th. Scherbatsky, misalnya dalam bukunya “The Central Conception of Buddhism and the Meaning of the Word Dharma,” sebuah buku yang bersumber dari sebuah kitab Mahayana yaitu Abhidharmakosa yang disusun oleh Vasubhandu, menyebutkan arti kata Dhamma tersebut dalam empat klasifikasi, yaitu: secara harfiah, ontology, etika, dan keagamaan.

Secara harafiah dalam bahasa Sansekerta, kata itu mempunyai akar-kata dhr, yang berarti ‘berada dalam dirinya’ atau ‘mengandung, menjunjung, menunjang dirinya.’ Kata yang menunjukkan berada ‘ada’ (what exists) ini mengacu kepada segala sesuatu; dari yang konkrit seperti hasil kebudayaan, peradaban atau debu yang tidak terkirakan kecilnya sampai yang paling abstrak seperti pikiran, perasaan, karma, buah karma, Nibbana, dan jalan untuk mencapai Nibbana.

Pemahaman secara harafiah ini menuntun kepada pemahaman secara ontologis, yakni sebagaimana yang diungkapkan dalam Anguttara Nikaya, yang mengelompokkan tentang “ada” sebagai sankhata-dhamma (ada yang bersifat tidak mutlak) dan asankhata dhamma (ada yang bersifat mutlak, tidak berkondisi). Pemahaman ini hanya dapat dicapai oleh para ariya yang telah tidak ditutupi oleh ketidaktahuan (avijja), yang telah mencapai Nibbana atau padamnya api keserakahan, kebencian dan kegelapan batin.

Dengan begitu, para ariya adalah mereka yang sungguh-sungguh memahami kebenaran yang transenden yang bersifat asankhata (ada, yang bersifat mutlak), sebagaimana yang terumus dalam Udana 8 ayat 3: Atthi Ajata, abhuta, akata dan asankhata. Ada (atthi), yang tidak dilahirkan (ajata), yang tidak menjelma (abhuta), yang tidak-diciptakan (akata), dan yang mutlak (asankhata), yang menjadi prinsip eskatologis (pembebasan) dan prinsip teleologis (tujuan akhir) umat Buddha.

Untuk itulah umat Buddha mengambil perlindungan kepada Dharma: “Dhammam saranang gacchami” (saya berlindung pada Dharma), dimana Dhamma sebagai Kebenaran Mutlak merupakan hulu dan muara sungai Dharmakaya, sebagaimana yang ditegaskan di dalam Maha Parinibbana Sutta: “Setelah saya parinibbbana, Dhamma dan Vinaya yang saya ajarkan akan menjadi Guru dan Pemimpinmu..”

Itulah Tubuh Dharma (Dharmakaya), aspek dari batin yang suci, cerah, cemerlang, kedamaian yang terlihat dari ajaran-Nya. Tubuh dengan mana beliau mengajar, rupakaya/nirmanakaya (tubuh perwujudan), tubuh jasmani yang merupakan bagian dari proses pribadi yang tidak kekal. Sambhogakaya (tubuh kebahagiaan) adalah batin (nama) beliau semasa hidup; nibbana yang dialami selagi masih hidup.

Dhamma secara etika terpantul dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, dalam perilaku umatnya. Secara etika, berarti hukum moral, kejujuran, kelakuan yang baik, kewajiban, dan berhubungan erat dengan pengertian karma, menyangkut baik dan buruk perilaku, dan yang mencerminkan Dhamma sebagai jalan (magga) menuju tujuan akhir.

Tujuan sekaligus jalan, jauh sekaligus dekat ada disini, sebagaimana dinyatakan dalam Dhammanussati: “Dharma telah sempurna dibabarkan oleh Sang Buddha; berada sangat dekat, tidak dibatasi oleh waktu, layak untuk diperlihatkan, membawa kepada kebebasan, dapat diselami oleh para bijaksana dalam batin masing-masing.”

Makna etis Dhamma ini akan semakin terlihat di dalam Digha Nikaya: “Gotama yang mahamulia terbangun karena sila, Samadhi, panna, kebebasan (dari samsara) yang merupakan Dhamma Tertinggi,” dan sekaligus makna ini menuntun kita kepada pemahaman secara keagamaan, yakni yang mencakup pengertian pengertian Dhamma sebagai Kebenaran Mutlak (yang transenden) dan Dhamma sebagai Yang Menguasai dan Mengatur Alam Semesta (yang immanen).

Makna Dharma yang dalam dan luas itu akhirnya dapat teringkas secara estetis dalam: Saddhamma “dhamam yang benar” “dhamma yang baik”, karena baik/indah pada permulaan, indah di tengah, dan indah pada akhirnya, yang telah mempesona banyak manusia dan makhluk dan menghantar kepada pembebasan, menciptakan banyak ariya suci, dan sekaligus menempatkan para ariya sebagai pembimbing dharma bagi umatnya.

Dhamma dalam makna agama yang disebut juga sebagai sasana inilah yang akan selalu dilestarikan, dipelihara, dan dibabarkan oleh para siswanya tanpa kenal lelah. “Sabba danam dhamma danam jinatti, dana dhamma melebihi semua dana,” sebagaimana yang digerakkan oleh para siswa-siswanya. (Jo Priastana).

Posted in Desana | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.