Dalam bahasa Sansekerta Svastika berarti “all is well” yang dapat diartikan sebagai “segalanya adalah baik”. Arti yang selaras dengan gambarnya yang berupa empat tangan yang sama panjangnya, dan yang gambar ini pun menunjukkan kesempurnaan karena kalau dibalik atau diputar kemanapun dan pada posisi arah manapun akan tetap sama sempurnanya seperti itu.
Symbol yang telah ditemukan sejak jaman dahulu dan dipergunakan di banyak tempat, baik di Mesir, Roma, Yunani, Persia dan khususnya di India ini juga terdapat di dalam lingkungan Buddhis, kata Sankrit yang berarti “good fortune, luck and well being.” Svastika dikatakan berisikan seluruh kesadaran Buddha dan dapat ditemukan terekam di dalam berbagai macam “Buddha images”. Svastika merupakan juga symbol pertama dari sejumlah 65 simbol Buddha. (Damien Keown, A Dictionary of Buddhism, 2003).
Sebagai symbol yang pertama svastika sering juga digunakan sebagai tanda yang mengawali permulaan kali pembelajaran Buddharma, yakni mengenai Hukum empat kesunyataan Mulia (Cattari Ariya Saccani) yang merupakan hukum kesunyataan dimana Buddha membabarkan ajarannya pertama kali, yaitu: kesuyataan tentang dukkha, kesunyataan tentang sumber dukkha, kesunyataan tentang akhir dukkha, dan kesunyataan tentang jalan melenyapkan dukkha.
Dengan begitu, svastika yang juga mengacu kepada empat kesunyatan mulia memiliki makna yang sangat dalam yang menyangkut inti dan maksud dari dharma yang diajarkannya yaitu mengenai “penderitaan dan pembebasan,” seperti yang sering dikatakannya juga. Pesan ini sekaligus menunjukkan makna sejati dari peran dan tugas luhur Sang Buddha yang berkarya demi kebahagiaan semua makhluk, sebagaimana pekik kemenangannya ketika mencapai Buddha yang mengawali terbebasnya dari penderitaan.
Karena itulah, svastika tidak lepas dari tugas dan peran Sang Buddha di dalam mengatasi penderitaan. Ada penderitaan, ada sumber penderitaan, ada lenyapnya penderitaan dan ada jalan melenyapkan penderitaan. Inilah simbol solidaritas dengan mereka yang menderita dari seorang Buddha yang selalu mendengarkan dan mengunjungi berbagai lapisan masyarakat yang menderita, tidak hanya dari stratifikasi social yang diatas namun juga kepada masyarakat marginal, seperti mereka yang buta, bisu, tuli, lumpuh, lapar, haus, telanjang, dan tunawisma, dan kaum perempuan yang juga turut diangkatnya ke level paling tinggi kesetaraan dalam kesucian.
Ruang lingkup solidaritas dari tokoh utama di dalam agama Buddha ini tidak hanya berhenti pada level personal semata namun juga level social. Buddha bukan orang penakut yang menghindari bila harus berkonfrontasi dengan struktur kekuasaan dan tirani nilai budaya diskriminatif maupun melawan kekuasaan politik-religius pada masa itu. Melalui svastika, symbol ajaran pertama kalinya itu, Buddha menyadari akan peran dan tugasnya dalam amanat penderitaan manusia bahkan penderitaan semua makhluk.
Melihat svastika yang menyimbolkan “kesempurnaan” atau kemenangan atas penderitaan itu mengartikan pula bahwa kita harus bergumul terlebih dahulu dengan berbagai bentuk penderitaan. Kita diundang untuk melawan setiap bentuk penderitaan baik dalam level personal-individual maupun social-kontekstual, baik dalam gejalanya, penyebabnya maupun cara atau jalan mengatasinya. Sebab dalam kaca mata svastika dengna kata sansekertanya itu, “kesempurnaan” nirvana itu bukanlah semata bermakna personal dan individual, religius, filosofis semata namun juga social-kolektif, spiritual dan emansipatoris.
Bersama svastika yang diputar Sang Buddha pertama kali, maka dengan menyesuikamn konteks saat ini kita pun akan mampu melihat realitas penderitaan di Indonesia. Adanya banjir, gempa bumi, dan tanah longsor yang memperburuk kondisi kemanusiaan, seperti dalam antrean panjang korban bencana kemanusiaan, kelangkaan beras yang dialaminya yang semuanya itu menanti untaian solidaritas dan karya social yang bukan sekedar dijadikan obyek untuk mengangkat popularitas di depan public layaknya politikus atau selebritis namun sungguh-sunguh dengan amanat agung demi pembebasan penderitaan.
Dengan etos dan spiritualitas solidaritas putarlah svastika ke segala arah agar menjadi tanda kesempurnan, kemenangan atas penderitaan, dimana semua sisi-sisi dalam empat kesunyataan itu menjadi nyata dan kontekstual. Jalan kemenangan itu tampak di dalam kesetiakawanan dan solidaritas terhadap mereka yang mengalami penderitaan baik yang sudah ada secara inheren maupun yang terwujud secara structural sebagai korban kekerasan dan ketidakadilan.
Kemanapun arah svastika itu diputar atau dibalik, kemenangan atas penderitaan senantias menanti, sebagaimana Buddha yang membalikkan penderitan menjadi pekik kemenangan dan menciptakan kondisi kehidupan dan tata nilai manusiawi yang sesuai dengan Dharma penuh damai, sejahtera sebagaimana kabar Dharmanya yang membahagiakan. Kemanapun angin berhembus tak akan dapat melawan dari kebajikan berputarnya svastika.
Maka sebagaimana penderitaan yang telah ada sejak manusia menyejarah di bumi ini, para siswa sejati yang menjadi perpanjangan tangan dan hati Buddha pun sepanjang abad ke abad telah menggerakkan svastika ke segala penjuru menjumpai berbagai fenomena penderitaan dan mewujudkan segala tekad dan upayanya membuka selubung belenggu penderitaan selalu di dalam semangat persaudaraan agung dan kerukunan dalam karya dharma yang mencerahkan dan menjadi sumber inspirasi di segala jaman (Jo Priastana).