Bayangkanlah ada anak kecil dalam diri kita. Anak kecil yang merupakan diri kita sewaktu kecil. Mungkin banyak kejadian sewaktu masa kecil yang membekas akibat perlakukan dan pendidikan orang tua. Namun, apa pun kejadian yang pernah dialami sewaktu kecil itu, cobalah saat ini kita mengenali dan berusaha memahaminya dengan menyentuh anak kecil yang ada di dalam diri kita itu.
Mungkin orang tua telah meninggalkan luka amarah, dendam dan kebencian akibat tindakan kekerasan yang dilakukannya sewaktu kita kecil. Namun, dalam menyentuh anak kecil di dalam diri kita itu saat ini, marilah kita sentuh hati anak kecil yang lembuh dan halus itu dengan cinta kasih.
Dengan melihatnya secara mendalam (vipassana) cobala kita berusaha mengenali dan memahami bahwa duri amarah, dendam dan kebencian yang tertanam itu adalah juga kasih sayang orang tua yang mungkin belum mengerti mengenai sia-sianya pendidikan kekerasan yang dilakukannya, serta belum memahami kebutuhan anak untuk dimengeti dan diberlakukan dengan kelembutan.
Jagalah hati anak kecil yang masih mengandung cinta kasih, perasaan lembut, kasih sayang itu, dan berusahalan mencabut kemarahan, dendam, benci yang terlanjur tertanam hanya karena kekeliruan. Sentuhlah secara mendalam sambil menumbuhkan pengetian bahwa tak ada orang tua yang tidak cinta kepada anaknya, meski seringkali ekprssi cinta itu salah dan keliru.
Kita semua akan menjadi orang tua, kita juga bagian dari keberlangsungan orang tua kita. Haruskah pendidikan kekerasan akan juga tertular kepada anak-anak kita seterusnya? Cobalah lihat, adakah keketusan, kekerasan kepala, amarah, dendam pada anak-anak kita. Dari manakah itu datangnya? Haruskah rantai kekerasan dan kebencian, amarah dan dan dendam berkelanjutan terus, dari generasi ke generasi, menciptakan konflik dan peperangan tak ada habis-habisnya.
Marilah dalam duduk hening di tengah malam ini, kita layangkan kembali pandangan kita ke masa silam, masa kecil kita. Sentuhlah secara mendalam anak kecil yang ada dalam diri kita itu, dengarkan, amati dan rasakanlah saja. Mungkin masih ada energi dendam, benci dan amarah, cobalah kenali dan pahami dan transformasikan kembali ke dalam hati anak kecil kita yang lembut, suci, penuh harap kasih sayang dengan cara memahami bahwa segala perlakuan orang tua kita adalah sesungguhnya cerminan dari cinta kasihnya.
Orang tua dalam diri kita, anak kecil dalam diri kita adalah sama-sama saling mencintai. Anak kecil yang lemah yang memerlukan pengertian dengan sentuhan kasih sayang dan kelembutan tanpa mempergunakan kekerasan. Orang tua yang mungkin karena kesibukan menafkahi keluarga yang masih belum-tahu dan masih belum mengenali akan sikap kelembutan yang dibutuhkan anaknya, ketimbang sikap kekerasan dan ketergesa-gesaa yang dilakukannya yang menjadikan anaknya terluka.
Sentuhlah anak kecil kita dalam diri kita. Cabutlah karat dendam, benci, amarah, kekesalan ketika mengeluarkan nafas dalam-dalam, dan tanamkanlah kembali teratai hati yang lembut, penuh kasih, cinta dan sayang ketika menarik nafas dalam-dalam. Kita melakukannya dengan penuh kesadaran (mindfulness), hingga karat energi negatif yang tersimpan itu meleleh perlahan seturut dengan mekarnya teratai energi yang positif yang menjadikan diri kita tumbuh dalam ketegaran kebaikan dan cinta.
Kita bernapas dengan menyadari aliran masuk dan keluarnya. Kita hidup dengan mengalami aliran cinta dan benci, kemarahan dan kemegertian, kekerasan dan kelembutan. Kita menyadari napas masuk dan keluar sebagaimana adanya. Kita mengenali cinta dan benci, kemarahan dan kemengetian, kekerasan dan kelembutan sebagaimana adanya.
Hanya dibutuhkan sedikit sentuhan untuk mengeluarkan enegeri negatif karat benci, amarah dan memasukkan atau menamam kembali energi yang positif, teratai cinta, kemengertian dan kelembutan untuk penyembuhan diri kita. Sejalan dengan itu kita pun akan bernapas secara mendalam, menghembuskan kembali energi positif teratai cinta, kemegertian dan kelembutan seraya menarik masuk energi negatif benci, kemarahan dan kekerasan yang ada di diluar untuk kesehatan segenap masyarakat.
Kita menyadari semuanya memiliki kesamaan kebutuhan dan penderitaan, semua sama-sama memiliki pemenuhan dan kebahagiaan. Di dalam menyentuh anak kecil dalam diri kita, anak kecil yang telah tumbuh dewasa dan menjadi orang tua, kita menyadari bahwa semuanya memang membutuhkan cinta dan cinta juga menyembuhkan semua. Loka pathambka metta, hanya cinta kasihlah yang menyembuhkan dunia! (Jo Priastana).
Archive for the ‘Refleksi’ Category
MENYENTUH ANAK KECIL DALAM DIRI KITA
Posted by yasodhara on February 15, 2009
Posted in Refleksi | Leave a Comment »
SANG BUDDHA
Posted by yasodhara on February 8, 2009
Oleh Jo Priastana
2552 tahun yang lalu seorang pangeran muda berkelana sebagai pertapa menempuh derita dan sengsara untuk mencapai nirvana, puncak kebahagiaan abadi yang yang menjadi dambaan dan impian semua umat manusia. Di bawah pohon Bodhi, di Bodh Gaya, pertapa muda yang bernama Siddharta Gautama itu mencapai pencerahan sempurnanya menjadi Buddha dalam naungan alam yang menyambutnya penuh suka cita.
Dia adalah Buddha, anak yang besar di lingkungan istana dikelilingi oleh segenap kemewahan., kesedapan hidup duniawi, istana yang megah serta tersedianya kekuasaan memerintah. Namun, semuanya ini ia tinggalkan hanya untuk mendapatkan kebijaksanaan tertinggi, mencari obat derita umat manusia, resep kebahagiaan bagi semesta.
Ia pergi mengembara menapaki koridor yang paling gelap dari pikirannya, pikiran yang juga bersemayam di hati umat manusia, untuk akhirnya berhadapan secara langsung dengan Mara, pemimpin utama para setan jelmaan sifat-sifat buruk yang ada di hati manusia. Ia berhasil mengatasi Mara, mencapai pencerahan dan kemudian mendirikan Buddha Sasana, sebagai agama dunia pertama pada masa itu, yang kini memiliki lebih dari 400 juta pengikut di seluruh dunia.
Buddha Sasana
Buddha Sasana, sebuah agama dimana meditasi dipergunakan dan dipraktekkan secara utuh untuk mencapai perdamaian dan kebahagiaan. Sebuah agama dimana moralitas ditegakkan dan memaklumatkan bahwa pembebasan bukan datang dari luar diri manusia namun justru dari perkembangan potensi luhur manusia itu sendiri, bahwa setiap orang siapa saja dapat mencapainya, samyak-sambodhi, pencerahan sempurna sebagaimana dinyatakan Dalai Lama: “Potensi kita sendiri, usaha sendiri untuk mengetahui realitas utama.”
Ajaran Buddha berkembang ke manca-negara diterima dan diadopsi atau diadaptasi berbagai budaya dan juga tertimpakan oleh banyak penafsiran, membangun banyak tradisi dan karena itulah, Buddhadharma yang diajarkannya itu menjadi subur hidup di berbagai belahan dunia dimana saja pada siapa saja, dan telah menggglobal pada masanya.
Ajaran Buddha yang mengumandangkan tentang ketenangan dan kejernihan tertinggi ini dapat dipandang dari berbagai segi dan bisa dapat dianggap sebagai apa pun juga, seakan memang ada 84.000 cara untuk mendekatinya. Orang bahkan bisa saja menganggapnya bukan agama atau mungkin hanya semata sebagai pedoman atau pandangan hidup, atau barangkali sebagai sekedar filosofi yang menawarkan kejernihan berlogika dan sekaligus mengatasi cara-cara pikir logis.
Atau bahkan dianggap hanya sekedar sebagai sebuah psikoterapi dimana orang menemukan kedamaian dan ketenangan bersamanya, dimana psikologi menjadi agama alternatif bagi banyak orang. Sebuah agama yang bercirikan kekuatan terapis untuk mengatasi masalah kehidupan dan mudah dilakukan oleh banyak orang dan sungguh terasakan manfaatnya bagi tumbuhnya pemahaman mengenai hakekat kehidupan dan kebahagiaan .
Buddha dan ajarannya memang begitu luar biasa. Sebagian orang bisa juga menganggap agama Buddha bukan agama namun agama sebagai ilmu pengetahuan pikiran, dan pesannya masih tetap relevan saat ini seperti 2500 tahun lalu karena memang menyentuh hakikat dasar dari manusia itu sendiri. Buddhadharma memiliki daya tarik tersendiri dan populer, karena menyentuh hal-hal penting yang amat besar dan mendasar dari kehidupan umat manusia.
Bahwa Buddha menemukan realitas dan kebenaran yang disebutnya sebagai ke-Sunyata-an, ciri dari fenomena semesta. Bahwa penderitaan itu adalah realitas dari kehidupan manusia dan yang menjadi ciri dasar dari eksistensinya. Bahwa perubahan itu adalah ciri utama dalam semesta dan jalannya kehidupan ini, dan bahwa setiap fenomena tidak memiliki dasar untuk berdiri sendiri dalam keisolasiannya namun mewujudkan keberadaannya dalam saling ketergantungan, saling inter-koneksi, dimana kasih sayang itu akan terasakan keberadaannya untuk berkuasa.
Pesannya yang kuat bahwa manusia memiliki potensi luhur untuk menggapai apa saja dan bahkan menjadi Buddha menyajikan suatu pandangan yang optimistic dan penghargaan luar biasa pada kemampuan manusia. Sebagaimana dengan ajaran utamanya yang memusatkan pikiran dan yang menjadikannya sebagai agama keselamatan yang tanpa perlu bantuan kekuatan eksternal.
Meski tanpa adanya pernyataan akan siapa yang dapat menolong dan menyelamatkannya, namun para siswa dan pengikut atau siapapun yang berteladan kepadanya pastika tetap akan merasakan bahwa dalam agama ini memiliki seorang guru besar yang sejati, guru para dewa dan manusia, yaitu: Sang Buddha sendiri, Dia yang Telah Bangkit.
Representasi Buddha
Sang Buddha atau Dia yang telah Bangkit, Dia yang telah Sadar, yang menyatukan segenap aliran dan ragam tradisi yang berkembang darinya, dan yang datang berhimpun dan menyatu dalam Waisak. Perayaan mengenai dirinya yang dirayakan oleh umat dimana saja, dan yang mencerminkannya sebagai agama universal yang memang pantas tumbuh menyuburi dunia globalisasi saat ini.
Dari perkembangan taradisi dan sejarah peninggalannya yang mengagumkan dalam budaya dan ragam seni yang mempesona dan mencerahkan terdapat banyak representasi Buddha, pelukisan tentang dirinya. Beragam pelukisan figur tentang sosoknya dalam rupang dan lukisan, serta dalam benda-benda seni mengagumkan dan mempesona.
Namun begitu, dari ekspresi para penganut Buddha yang memang memiliki dan berhak melukiskan gambarannya akan rupanya itu, dan diantara begitu banyaknya ragam gambaran tentang keindahan dirinya itu, justru semakin terasakan citra sosoknya yang sangat kuat dan mempesona dan sekaligus meneguhkan kebenaran yang satu dan sama, Buddhadharma untuk Pembebasan.
Seakan singularitas itu tak akan berdiri tanpa pluraritas dan dalam taman bunga yang menawarkan ragam warna yang indah akan terpetik dan terasakan sari wanginya yang memberi keharuman sekitar, maka Buddhadharma seakan ditakdirkan untuk tumbuh dalam mancanegara, dalam ragam budaya dalam paras dan wajah yang bermacam-macam.
Walau begitu, setiap orang tetap pasti akan dapat mengenali dan memastikannnya bahwa Dia itulah Buddha, Dia yang telah Bangkit, Dia yang telah Sadar. Dialah Kebangkitan Kesadaran, Kebangkitan Dunia, Kebangkitan Perdamaian, Kebaikan, Kesederhanaan dan Sikap Tanpa-Kekerasan.
Terhadap sosok yang dapat multi tafsir ini, siapa saja akan menemukan sari-pati darinya di dalam senyum pencerahan dan kedamaiannya itu, sebagaimana Dalai Lama mengungkapkan: “semacam getaran kedamaian dan non-kekerasan yang utuh yang keras ada di dalamnya.” Bagi Dalai Lama, Buddha adalah Kedamaian dan Non-Kekerasan.
Itulah mungkin jasa tak terhingga atas kehadirannya dan kemunculannya dalam peristiwa Waisak yang dimulai 2552 tahun lalu.. Keberkahan yang diberikannya kepada dunia, bagi umat manusia, dalam jaman dan waktu kapan pun, sepanjang masa. Selamat Waisak 2552/2008, Be Budhist, Be Happy!.
****
Posted in Refleksi | Leave a Comment »
Meniti Jalan Tengah
Posted by yasodhara on February 8, 2009
Dewi Lestari
Sebuah e-mail saya terima bulan Maret lalu, info tentang retreat lima hari bersama Master Zen Thich Nhat Hanh di Hong Kong. Hati saya seketika terangkat, intuisi saya berkata: pergi. Saya pengagum karya-karya beliau, tapi tidak mempelajarinya secara mendalam. Bisikan kedua datang dari guru sekaligus sahabat saya, yang juga berkata: pergi.
Bahkan hingga saya menginjakkan kaki di Hongkong pada tanggal 11 Mei lalu, menempuh perjalanan satu jam lebih ke Wu Kai Sha, dan meletakkan koper saya di dalam kamar yang akan dihuni bersama lima orang lain selama lima hari ke depan, saya masih belum tahu pasti apa yang saya cari, dan apa yang akan saya dapat.
Tercatat sekitar 400 orang yang menginap di kompleks retreat, 400 orang datang pulang-pergi, plus 60 anggota Sangha yang didatangkan dari Plum Village. Ini memang retreat skala besar. Hampir 900 orang berkumpul di dalam aula setiap harinya. Suasana riuh dan tempo cepat yang membungkus kami seketika bertransformasi seusai Thich Nhat Hanh muncul dan memberi orientasi tentang “Five Mindfulness Trainings” yang akan kami jalankan selama retreat. Tidak hanya dalam bentuk penjelasan tapi juga pengalaman langsung yang akan dijalankan lewat meditasi berjalan, meditasi duduk, makan, minum teh, bicara secukupnya, dibantu oleh energi kolektif Sangha yang hadir membaur dengan para peserta.
900 orang lalu mulai bergerak dalam keheningan, dalam tempo lambat, dengan bungkukan hormat dan tangan berpose anjali, diiringi bunyi bel yang sesekali digaungkan untuk mengingatkan semua orang berhenti beraktivitas dan pulang pada irama napasnya. Lambat laun saya mulai memahami mengapa saya memilih pergi.
Sungguh, tidak ada kegiatan “luar biasa” yang saya lakukan di sana. Kami sarapan, bermeditasi duduk dan berjalan, mendengarkan ceramah, makan siang, istirahat, berdiskusi dalam kelompok kecil saat sore, makan malam, tidur. Namun hidup seolah-olah ingin menunjukkan bahwa sesungguhnya setiap hari adalah ritual kesadaran. Dan kita telah melewatkan kegiatan-kegiatan sederhana ini bagai angin ribut yang menyapu padang bunga. Angin yang berlomba menuju ruang kosong tanpa tahu banyaknya keindahan yang gugur di bawah sana. Dan selama lima hari kami dilatih untuk menahan laju angin badai ini, kembali menjadi udara yang bergerak semilir agar sempat memetiki bunga-bunga cantik yang selama ini tumbuh tanpa disadari di padang hidup kita.
Pemamahan itu pun terus membulat dari hari ke hari. Mulai saya mengerti mengapa guru saya menyuruh saya pergi. Pada bulan Maret, beberapa hari sebelum info tentang retreat tersebut tiba, saya terlibat percakapan dengannya, dan Sang Guru berkata: Remember that nature isn’t just about drives and impulses. Reality shouldn’t be perceived as all restriction or compromise, but as a pathway to ensure your safety towards your highest purpose. And as the middle path walker you should be aware of the dynamic between your inside and the outside world. To walk safely and respectfully means you take both realms in consideration. Dan ketika saya bertanya balik, koridor apa yang harus saya pakai, jawabannya singkat saja: five precepts.
Lima Sila ini telah digaungkan Sang Buddha sejak 2500 tahun lalu, sekilas pintas tak jauh berbeda dengan Ten Commandments, atau bahkan nasihat standar orang tua: Jangan membunuh. Jangan mencuri. Jangan berbohong. Jangan berbuat asusila. Jangan mengonsumsi apa pun yang melemahkan kesadaran. Dan terkadang, dengan konteks zaman yang jauh berubah, pola pikir yang memodern dan kian canggih, sungguh tidak mudah mengerti kedalaman perintah-perintah singkat itu, bahkan terasa naif dan tidak realistis.
Kita sering lupa, bahwa penderitaan dalam kehidupan manusia, begitu juga kebahagiaan yang didamba semua manusia tetap sama, terlepas dari zaman Abraham manusia naik unta dan sekarang manusia terbang dengan Boeing. Lebih riskan lagi, terkadang kita terjebak dalam pencerahan sebagai momentum. Kita lupa bahwa menjadi tercerahkan melibatkan disiplin dan praktek yang dijalankan seumur hidup. Kita tersesat dalam “spiritual” sebagai konsep tinggal telan, dan mengabaikan aspek “spirit” yang tak lepas dari “ritual”.
2500 tahun telah berlalu, guru-guru yang merupakan emanasi dari kebijaksanaan Sang Buddha telah hadir dan pergi, dan saya bersyukur dapat bertemu dan berpraktek langsung dengan salah seorang guru yang berhasil menerjemahkan Lima Sila ke dalam pengertian modern. “Five Mindfulness Trainings” yang dirumuskan Thich Nhat Hanh tak lain adalah penerapan Lima Sila dalam konteks zaman sekarang, sebagaimana bernamaskara dijembataninya menjadi ritual bersyukur pada bumi, orang tua, dan leluhur. Triratna dijembataninya menjadi ajaran cinta kasih, pemahaman benar, dan komunitas yang harmonis. Pada saat itu baru saya mampu mengapresiasi apa yang telah dilakukan Thich Nhat Hanh selama ini. Beliau mampu menghidangkan kemurnian ajaran Dharma dalam kemasan masa kini, tanpa mengintimidasi, tanpa kehilangan otentisitas.
Sejak lama saya menerima dan menyepakati ajaran Sang Buddha. Namun Mindfulness Retreat menjadi titik balik bagi saya. “Five Mindfulness Trainings” bukan kesaktian atau momen tunggal pencerahan yang sekonyong-konyong menghajar kesadaran, melainkan komitmen harian dan kode etik yang, jika dijalankan dengan setia, niscaya akan membuahkan mental yang bersahaja, bermakna, dan peka. Sesuatu yang masuk akal dan konkret untuk mewujudkan hidup damai yang didamba semua makhluk—terlepas apa pun bentuk dan keyakinannya. Bagi saya, koridor tersebut relevan untuk konteks hari ini dan relevan pada setiap masa.
Hari terakhir retreat. Sejak pukul setengah enam pagi semua peserta berkumpul dalam aula. Kami, yang memilih untuk berkomitmen pada lima praktek kesadaran, duduk berlutut. Dan saat saya bernamaskara, mengucapkan komitmen saya, hati sayalah yang sesungguhnya bersujud mensyukuri setidaknya tiga hal. Pertama, saya berkesempatan terlahir menjadi manusia. Kedua, saya berkesempatan mengenal ajaran kebenaran dan kasih. Ketiga, saya berkesempatan untuk meniti jalan tersebut.
Kita dapat berdiri jauh dari jalan itu, membayangkan untuk meraihnya satu hari tanpa menggerakkan satu pun kaki. Kita dapat berdiri begitu dekat dari mulut jalan, tapi kabut tebal menghalangi pandangan hingga kita berdiam lama tanpa berbuat apa-apa. Kita dapat melancong ke tepi jalan itu, berfoto sejenak, lalu pergi untuk menambah koleksi tempat-tempat wisata kita. Dan kita dapat pergi ke jalan itu, menitinya perlahan, langkah demi langkah, tanpa terbebani iming-iming yang menanti di ujung sana, dan hanya mengapresiasi komitmen dan upaya kecil kita setiap hari. Memetiki bunga-bunga mungil yang selama ini terabaikan, menahan laju angin badai yang senantiasa menggusur kaki ini keluar dari koridor. Jalan Tengah dicari bukan hanya demi filosofi, tapi bukti untuk dijalani.
Teks “Five Mindfulness Trainings” saya renungkan berkali-kali selama retreat, bahkan saya menangis jika perlu. Ada keindahan yang tak tertampung tubuh ketika pemahaman ini mengutuh. Perjalanan hidup saya… pertemuan saya dengan sahabat sekaligus guru saya… hingga selembar tiket elektronik yang menerbangkan saya ke Hongkong… tampak sebagai rangkaian penggalian untuk kembali menemukan apa yang telah tertimbun oleh debu batin dan waktu: vajra—permata yang bersemayam dalam diri. Terakhir, saya bernamaskara bagi mereka, bagi kalian, bagi kita, bagi semua makhluk, yang dengan caranya masing-masing telah menjadi guru terbaik saya.
* Teks lengkap dari “Five Mindfulness Trainings” dapat dilihat di situs resmi Plum Village: www.plumvillage.org
Penulis adalah seorang artis dan sastrawati.
Posted in Refleksi | Leave a Comment »
Five Mindfulness Training
Posted by yasodhara on February 8, 2009
First Mindfulness Training.
Aware of the suffering caused by the destruction of life, I am committed to cultivating compassion, and learning ways to protect the lives of people, animals, plants, and minerals. I am determined not to kill, not to let others kill, and not to support any act of killing in the world, in my thinking, and in my way of life.
Second Mindfulness Training.
Aware of the suffering caused by exploitation, social injustice, stealing, and oppression, I am committed to cultivating loving kindness and learning ways to work for the well-being of people, animals, plants, and minerals. I will practice generosity by sharing time, energy, and material resources with those who are in real need, I am determined not to steal and not to possess anything that should be belong to others, I will respect the property of others, but I will prevent others from profiting from human suffering or the suffering of other species on earth.
Third Mindfulness Training.
Aware of the suffering caused by sexual misconduct, I am committed to cultivating responsibility and learning ways to protect the safety and integrity of individuals, couples, families, and society. I am determined not to engage in sexual relations without love and a long-term commitment. To preserve the happiness of myself and others, I am determined to respect my commitment and the commitment of others. I will do everything in my power to protect children from sexual abuse and to prevent couples and families from being broken by sexual misconduct.
Fourth Mindfulness Training.
Aware of the suffering caused by unmindful speech and inability to listen to others, I am committed to cultivating loving speech and deep listening in other to bring joy and happiness to others and relieve others of their suffering. Knowing that words can create happiness or suffering, I am determined to speak truthfully, with words that inspire self confidence, joy, and hope, I will not spread news that I do not know to be certain and will not criticize or condemn things of which I am not sure, I will refrain from uttering words that can cause division or discord, or that can cause the family or community to break, I am determined to make all efforts to reconcile and resolve all conflicts, however small.
Fifth Mindfulness Training.
Aware of the suffering caused by unmindful consumption, I am committed to cultivating good health, both physical and mental, for myself, my family, and my society by practicing mindful eating, drinking, and consuming. I will ingest only item that preserve peace, well-being, and joy in my body, in my consciousness, and in the collective body and consciousness of my family and society, I am determined not to use alcohol or any other intoxicant or to ingest foods or other items that contain toxin, such as certain TV programs, magazines, books, films, and conversation. I am aware that to damage my body or my consciousness with these poisons is to betray my ancestors, my parents, my society, and my future generations. I will work to transform violence, fear, anger, and confusion in myself and in society by practicing a diet for myself and for society. I understand that a proper diet is crucial for self-transformation and for the transformation of society.
Pada hari ke-empat, diadakan presentasi Five Mindfulness Training, yaitu Ke-lima training dibahas satu persatu dan juga disertai dengan sharing oleh 5 orang sukarelawan yang telah menerima Five Mindfulness Training sebagai pedoman dalam pelatihan diri mereka. Masing-masing dari mereka bercerita tentang bagaimana pengalaman mereka dan bagaimana mereka memperoleh manfaat dalam menjalani training tersebut. Sungguh mengharukan, karena mereka tidak segan-segan menceritakan masa-masa sulit dan juga hal-hal yang bersifat sangat pribadi kepada orang banyak. Sungguh layaknya seorang Bodhisattva.
Kalau kita baca Five Mindfulness Training diatas, maka kita segera menyadari bahwa itu tak lain dan tak bukan adalah Pancasila Buddhis. Ya, Thay mendesign Five Mindfullness Training tersebut memang bersumber dari pancasila Buddhis, tapi beliau menjabarkannya lebih detil hingga dapat lebih mudah dimengerti dan dijadikan panduan untuk kita berlatih dalam kehidupan sehari-hari.
Demikian sharing dari saya, semoga bermanfaat.
Akhir kata..
I would like to invite the bell, lets enjoy our breath for 3 times..then may we find peace and Joy..
May we can always practice to bring mindfulness and awareness to everything we do,
Suryati
Posted in Refleksi | Leave a Comment »
MASIH ADAKAH BUDDHA YANG MAHA BESAR
Posted by yasodhara on February 8, 2009
MASIH ADAKAH BUDDHA YANG MAHA BESAR
BERSEMAYAM DI BOROBUDUR?
Jo Priastana
Seorang anak muda yang masih duduk di bangku SLTA pergi begitu saja dari sekolahnya dan rumah orang tuanya menengok candi Borobudur yang telah menjadi obsesinya sejak kecil, sejak dikisahkan oleh sang guru sejarahnya. Beratus-ratus km anak muda itu menempuh perjalanan untuk menjumpai sosok Buddha dan ajarannya yang terpatri dalam wujud batu yang diketahuinya dan dikenalnya sebagai monumen warisan dunia salah satu keajaiban dunia.
Sementara ayah dan ibunya mencari-carinya kesana kemari sebagai sosok anak yang hilang dan sang kepala sekolah serta guru-gurunya dibuat kerepotan, mungkin anak muda yang tengah bergerak sesuai dengan kata hatinya itu masih bergentayangan di jalan-jalan di pulau Jawa seraya mengibaskan tangannya mencari truk tumpangan atau berhenti sejenak di warung makan untuk hanya memohon seteguk air dan segumpal nasi bergaram.
Sang Buddha yang dikenalnya bersemayam di Borobudur begitu menggerakkan hati dan panggilan jiwanya. Daya tarik yang luar biasa seperti ungkapan “tremendum et fascinan,” “menggetarkan dan sekaligus menarik” dari candi agung itu mungkin telah bersemayam di hati anak muda itu bertahun-tahun, tersimpan di bawah kesadarannya untuk akhirnya di suatu hari tak terduga dengan begitu spontan dan berenergi menggerakkan langkahnya menyusuri jalan-jalan beratus-ratus km jauhnya.
Berhari-hari anak muda si anak hilang itu bermain-main di candi Borobudur pulang balik pagi sore berjalan kaki dari tempat tumpangan menetapnya di Vihara Mendut dengan bale-bale bambunya dan lantai tanahnya yang lembab serta bilik mandinya yang berlumut. Saat matahari menyingsing menyambut terang tanah dan manakala senja hadir menurunkan sang matahari dari tahta di langit tingginya adalah saat-saat yang begitu luar biasa, saat dimana sang jiwa mekar mengembang dibalut keterpesonaan kebesaran semesta diantara kemesraan pegunungan menoreh, merapi dan merbabu, dan saat dimata hati terterlungkup menyambut malam menjelang yang mengundang kesunyian dalam menyelami kesucian malam.
***
Mungkin, anak muda itu hanyalah salah satu dari sekian jutaaan manusia lain yang terpesona akan keagungan candi Borobudur. Banyak anak muda berbagai daerah dan Negara yang juga terobsesi akan candi Borobudur sehingga harus menengoknya seketika hati tergerak dan menempuhnya dengan cara apa pun.
Di suatu senja pada suatu waktu, ketika mendengar obrolan seniman-seniman muda di Taman Ismailk Marzuki, Jakarta, terpetik suara bahwa si seniman gondrong yang kerap berpetualang sedang berada dalam perjalanan menuju puncak Candi Borobudur, stupa Induk Borobudur hanya untuk duduk-hening bermeditasi di bawah bulan purnamana saat detik-detik Waisak menjelang.
Lainnya, segerombolan anak muda yang sedang bercengkerama pada suatu sore di sebuah warung makan di Jakarta kota, begitu menyadari bahwa malam hari yang beberapa jam lagi adalah saat datangnya malam Waisak langsung saja mereka bangkit tancap kaki menuju bandara Soekarno-Hatta, mencari pesawat menuju Yogyakarta tanpa mempedulikan ukuran kantongnya. Meski harus berhutang, mereka akhirnya tiba di candi agung tersebut dengan sempat mencicipi nikmatnya bersamadi di bawah curahan cahaya purnama saat detik-detik Waisak yang penuh kandungan energi spiritual dan menyetop semua aliran pikiran dan beragam ilusi yang ada.
Masih banyak lagi mereka yang terpesona akan keagungan Borobudur dan menariknya sebagai mandala kontemplasi sebagaimana Sang Buddha yang duduk hening bermeditasi, bersemayam dalam Borobudur telah berabad-abad lamanya. Seorang tua berpakaian adat Jawa di suatu siang menjelang perayaan Waisak, di bawah pohon Bodhi di sisi candi tampak dengan santainya menceritakan tentang tahapan spiritual Borobudur dan perilaku tapa kepada seorang anak muda Buddhis. Sementara Rabindranath Tagore dalam puisinya melukiskan Borobudur sebagai keaggungan dari manifestasi kesadaran Buddha.
Tidak disangsikan pula banyak pula anak-anak muda, beragam manusia dari manca negara beribu-ribu km jauhnya dari Borobudur, naik turun pesawat, gonta ganti kereta api atau andong atau becak dan menyusuri jalan-jalan berdebu datang hanya untuk dapat duduk bersimpuh dan duduk hening bermeditasi disisi stupa sebagaimana layaknya Buddha berabad-abad bersemayam di Borobudur, sebagai suatu perjalanan spiritual, pendakian jiwa tertinggi dan tenggelam dalam kontemplasi yang maha dalam, dalam kekosongan semesta, kedalaman jiwa, saat bersatunya makrokosomos dan mikrokosmos, ketika langit di luar dan langit di dalam bersatu dalam jiwa dan hati yang maha damai.
***
Namun adakah kini kita jumpai sikap-sikap dan perilaku meditative yang telah menjadi lakon dari nenek moyang kita dahulu kala itu? Perilaku yang menyelam ke dalam dasar batin dan mampu mendeteksi setiap peristiwa dunia hanya dalam getaran rasa, dimana suara gending, lemah gemulai penari jawa dan angin yang berhembus di perbukitan menoreh tidak terbedakan lagi kehalusan dan kelembutannya oleh mereka yang menikmati keheningan dan kesunyian.
Perilaku yang menghantar kepada sikap-sikap luhur dan mulia dimana ketertiban dan disiplin hidup menjadi ketertiban dalam kehidupan bermasyarakat dan berkreasi dalam ragam seni dan budaya. Perilaku dimana setiap benda mati yang berserakan di kali progo dan sisa muntahan lahar gunung merapi itu sungguh menjelma menjadi hidup, termanifestasi dan tumbuh subur dalam bentuk candi yang mengungkapkan ketinggian jiwa dan keagangungan budi pekerti bangsa, dimana kebenaran dan kejujuran adalah tetap kebenaran dan kejujuran sebagaimana adanya (yathambhutam) tak silau oleh bungkus ayat-ayat cinta atau terbungkam oleh ayat-ayat hukum.
Perilaku dimana semuanya dapat belajar dari seonggok batu tentang hakekat kehidupan dan makna hidup bersama dimana segala apa yang terjadi dan berbuah secara lahiriah adalah berpulang dari sikap dan keadaan jiwa-batin sendiri termasuk sikap dan keadaan kebatinan suatu bangsa, dimana prasetya dalam berkarier dan komitmen dalam hidup bersama adalah nilai-nilai yang sungguh dikejar dan diperjuangkan agar integritas diri itu menyebar kemana-mana menjadi lautan kehidupan bersama yang mengukir puncak peradaban bangsa.
***
Dimana kini peradaban luhur itu berada? Dimanakah sikap dan laku itu ada terwujud di puncak Candi, puncak keheningan jiwa? Adakah Buddha yang hening dalam sikap meditatifnya masih bersemayam di Borobudur? Adakah warisan spiritual nenek moyang yang diperoleh dari para pengunjung ketika mendaki dan menuruni candi Borobudur?
“Di Borobudur tidak kutemukan apa-apa,” demikian, petikan kata dari puisi penyair Ikranegara dalam kesempatan membacakan sajaknya di Taman Ismail Marzuki di pertengahan tahun 1970-an, yang seakan menyatakan tidak ada sesuatu yang “tremendum dan fascinans,” lagi di candi agung itu, meski di pojok kamar kostnya yang gelap anak muda itu masih sempat menulis “Di Borobudur telah kutemukan sesuatu, selembut wajah Sang Buddha, setenang danau samadhi, meski hanya seonggok batu yang menjadi kerajaan abadi, dalam rupangmu, nirwana bersemayam.”
Namun tiga puluh tahun kemudian, sebuah polling yang dilakukan di jaman teknologi yang canggih dengan internetnya, Borobudur pun tercoret dari takhtanya sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Berita terbaru tentang Candi borobudur yang tidak lagi termasuk lagi dalam tujuh keajaiban dunia.
Apakah Borobudur sudah tidak ajaib lagi? Borobudur tidak lagi menjadi daya tarik utama manusia di dunia untuk mengunjunginya. Ada apa dengan Borobudur? Masih terasakankah kehadiran Buddha yang Maha Besar itu?
Apakah memang telah tidak ada lagi Buddha yang Maha Besar itu bersemayam, yang menggerakkan langkah-langkah manusia untuk datang, meyaksikan dan mengalami sendiri maha dalam keheningan itu?!
*) Penulis adalah Pendaki Spiritual Borobudur.
Posted in Refleksi | Leave a Comment »
TAHUN BARU DAN REINKARNASI SOSIAL
Posted by yasodhara on January 22, 2009
oleh Jo Priastana
Filsuf Yunani Herakleitos (500 SM) bilang hakekat segala sesuatu adalah perubahan. Tak ada orang yang menyangkal mengenai perubahan ini. Bahkan, Barack Obama, Presiden AS ke 44 yang baru saja terpilih sungguh mempercayai dan dapat membuktikannya, dengan menyatakan Change, We Can Belive In! Perubahan. Itulah yang mencirikan fenomena dan kehidupan ini dan yang memungkinkan konsep waktu mengalir menghadirkan tahun baru 2009!
Segalanya berubah bagai arus sungai yang mengalir. Bila filsuf Yunani lainnya, Parmenides (515-440 SM) menyatakan kebalikannya bahwa yang ada hanyalah ketetapan, maka ketetapan ini pun barangkali hanya mungkin di dalam lintasan perubahan. Seperti arus listrik dalam nyalanya lampu iklan yang bergerak cepat membentuk kesatuan rentetan kata-kata yang sesungguhnya terjadi karena adanya rentetan lampu yang hidup-mati dengan cepatnya.
Perubahan sebagai ciri kehidupan juga diungkapkan Sang Buddha sebagaimana yang dinyatakannya dalam hukum kesunyataan anicca (tidak kekal), anatta, (tiada substansi yang berdiri sendiri) dan dukkha (fenomena penderitaan sebagai yang tidak memuaskan). Melalui arus perubahan dan ketidak-kekalan serta tiada subastansi diri yang kekal itulah menghadirkan samsara (sejarah eksistensial) manusia melalui reinkarnasi penerusan kelahiran kembali (punarbhava) yang merupakan ziarah manusia dalam menyelesaikan segala sesuatu yang masih belum memuaskan.
Segala yang belum memuaskan memerlukan perwujudannya kembali. Perubahan yang menandai beragam fenomena kehidupan dan menjadi ciri segala apa yang terdapat di alam semesta ini menunjukkan bahwa kehidupan ini adalah suatu proses perwujudan baru yang terus-menerus. Dalam bingkai hukum kesunyataan lainnya seperti hukum niyama (ketertiban bersyarat), fenomena perubahan atau reinkarnasi itu terjadi baik dalam dunia inorganic (utu-niyama) maupun dunia organic (bija niyama), serta pada ragam dunia kehidupan, baik itu lingkungan budaya maupun lingkungan sosial, baik pada dunia ide (citta) maupun dunia kesadaran (vinnana) serta pada tindakan-tindakan (karma) dan kehidupan bersama manusia.
Dunia sosial pun tak luput dari hukum perubahan. Reinkarnasi sosial terjadi sepanjang sejarah dan peradaban manusia. Dalam perjalanan waktu, manusia hadir, tumbuh dan berkembang dengan kesosialannya menumbuhkan dan memperbaharui sistim-sistim sosialnya. Sistim sosial masyarakat jaman batu beralih menjadi sistim sosial masyarakat jaman perunggu, jaman besi, atau sistim sosial masyarakat agraris yang tumbang berganti sistim sosial industrial, dan sistim sosial feudal, monarki yang beralih ke sistim sosial yang demokratis, serta kehidupan masyarakat yang semakin global dalam jaringan internet mencairkan sistim sosial yang terpusat dan menghadirkan perwujudan system sosial baru hasil interaksi dari beragam sistim sosial.
Segalanya menghadirkan kebaruan. Alam berubah, waktu mengalir, peradaban manusia tumbuh, berkembang dan lenyap, jutaan sel dalam tubuh mati dan lenyap sepanjang hari sebagaimana manusia yang selalu hadir dan lenyap, lahir dan mati dan bertumimbal lahir bersalin wujud baru dalam ziarah samsara-nya. Lingkungan budaya dan lingkungan sosial manusia berubah, menampakkan pembaharuan dan mewujudkan kehidupan barunya yang merentang dalam aliran waktu yang tak terbatas (amitayus).
Mempercayai perubahan berarti kita tumbuh dalam kehidupan. Menjalani kehidupan berarti berani menatap perubahan yang senantiasa menghadirkan pembaharuan. Karenanya kelahiran kembali (reinkarnasi) itu merupakan suatu perjalanan hidup baru, perjalanan kembali menemukan pembaharuan kehidupan, dimana diri yang tidak ber-substansi kekal itu (anatta) yang tidak memuaskan (dukkha) sesungguhnya adalah tubuh sosial, diri altruis yang mewujudkan tubuh sosial dan berujung pada pembaharuan sosial. Kemanakah arah perwujudan baru dari tubuh sosial masyarakat kita di tahun 2009 ini?
Perjalanan kehidupan dimulai dengan awal baru dalam kondisi yang telah diperbaharui. Layaknya sepasang pengantin yang mendapat ucapan selamat menempuh hidup baru, maka kehidupan sosial-politik, seperti pemilu 2009 merupakan malam pengantin dari berbagai kelompok sosial dan lapisan masyarakat Indonesia untuk mewujudkan pembaharua, sebagai suatu momentum peralihan kehidupan atau titik- antara (antarbhava) untuk terjadinya reinkarnasi sosial lahirnya Indonesia Baru.
Dalam konteks perjalanan spiritual manusia, reinkarnasi terjadi sebagaimana juga terjadinya perkawinan dan kematian. Pertemuan dan perpisahan yang merupakan fenomena yang satu bagaikan dua sisi dari satu kepinng mata uang yang satu dan sama, dimana arus penyatuan (kamma tanha) dan dambaan akan kehidupan baru (bhava tanha) terus berlanjut melalui kerjanya kesadaran penerusan (patisandhi vinnana) dan kesadaran menjelang ajal (cutti citta) yang mempesona terjadinya perwujudan tubuh dan kesadaran baru (nama-rupa) serta lahirnya generasi baru.
Reinkarnasi terjadi dalam mengenakan tubuh baru sebagai ziarah samsara, lingkaran kelahiran yang terus berulang guna menemukan nirvana. Nirvana yang mengatasi segala yang tidak memuaskan (dukkha) dan merengkuh kesempurnaan dalam paradoks dialektika yang menyatukan segaka wujud dualisme; lahir-mati, duka cita-suka cita dalam titik pusat keheningan, kepenuhan dalam kekosongan (sunyata).
Oleh kecerdasannya, manusia yang bijaksana dapat mengarahkan kehidupan dan mengendalikan putaran nasibya.. Namun sering kali, orang yang beba yang meninggalkan kesadarannya sangat menyandarkan nasibnya pada bintang yang berada jauh di langit tinggi. Namun, apa yang bisa diberikan bintang-bintang itu bila tanpa usaha diri sendiri. Sang Buddha pernah berkata: “kesadaran adalah kehidupan dan kepandaian merupakan bintang keberuntungan kita.”
Dunia ini merupakan suatu fenomena yang tidak abadi. Kita merupakan bagian dari dunia ini dalam suatu segmen waktu yang singkat dan mengalami transformasi tak terbatas. Setiap kata yang ditulis, setiap batu yang dipahat, setiap lukisan artistik, setiap stuktur kebudayaan, setiap generasi manusia pada akhirnya akan lenyap, seperti halnya daun gugur di musim semi yang akhirnya akan dilupakan. Namun, karena setiap eksistensi itu tumbuh dalam saling bergantung satu sama lain (pratitya samutpada) dan saling berpenetrasi, maka dalam kelenyapannyai itu mereka pun bersintesis menarik unsur-unsurnya satu sama lain dan mengalami reinkarnasi, bertransformasi dan menemukan pembaharuan kembali dalam perwujudannyas yang baru.
Perlu berapa lama kita menjalani hidup? Adakah kehidupan saat ini tidak cukup juga hingga perlu berlanjut pada kelahiran berikutnya? Dikatakan oleh Sang Buddha bahwa nilai kehidupan itu bukan terletak pada panjang pendeknya hidup. Hidup seratus tahun belum tentu sebaik kalau menjadi seorang yang sangat waspada dan sadar, berguna meski dalam sehari. Karenanya bukan waktu masa lalu dan waktu masa depan yang menentukan perubahan, namun kebangkitan kesadaran dan tindakan-tindakan saat inilah yang merangkum dan memberi makna masa lalu serta menentukan masa depan.
Dalam waktu masa kini itulah ada keberadaan dan kehidupan serta terjadi perubahan maupun pembaharuan. Di mana tidak ada perubahan dan pembaharuan maka di situ tidak ada apa-apa, tidak ada kehidupan. Hanya dalam kehidupan saat ini dan di sini yang terus menghadirkan perubahan dan pembaharuan sebagaimana juga tumbuhnya kesadaran terus menerus. Karena segala sesuatu yang hidup ada waktunya, maka biarkanlah dia hadir. Kehidupan itu sendiri adalah kesadaran, maka biarkan kesadaran itu bangkit. Kebangkitan kesadaran itulah yang dinamakan Buddha.
Kebangkitan kesadaran (Buddha) yang terentang dalam waktu tak terbatas dan mengalir secara abadi (amitabha)) itu terus aktif berkarya mewujudkan tubuh dharmanya (dharmakaya), menjadi tubuh sosial Bodhisattva. Bodhisattva yang bersifat altruis, penuh damai, kasih sayang dan terus berkarya sepanjang waktu bagi pembebasan makhluk yang menderita itu tidak lain adalah reinkarnasi sosial pencerahan Buddha. Bodhisattva yang tidak lain adalah diri kita sendiri yang hidup bermakna bagi orang lain dan yang menjadikan kebangkitan kesadaran sebagai kekuatan spiritual untuk menciptakan transformasi sosial, mewujudkan perubahan dan pembaharuan sosial. Selamat Tahun Baru 2009! (Majalah TAPIAN, Edisi Januari 2009).
Posted in Refleksi | 1 Comment »