Yasodhara Puteri

Mencerdaskan…Mencerahkan….

Archive for the ‘Sejarah’ Category

PAGODA SHWEDAGON DI MYANMAR

Posted by yasodhara on February 8, 2009

IDENTITAS RELIGIUS DAN SIMBOL PERJUANGAN RAKYAT

Perjuangan kemerdekaan dan pembebasan rakyat Myanmar tampaknya tidak bisa dipisahkan dari keberadaaan pagoda Shwedagon yang menjadi identitas religius dan nasional rakyat Myanmar. Tidak hanya tercermin dalam gerakan damai yang dilakukan para Bhiksu Myanmar pada September 2007 lalu, lebih jauh keberadaan Pagoda Shwedagon sebagai sebagai simbol dan arena perjuangan rakyat Myanmar itu juga telah tertanam dan berakar dalam di dalam sejarah perjuangan rakyat negeri seribu pagoda itu.

Pagoda Shwedagon yang merupakan landmark kota Yangon dan negara Myanmar dan dalam lafal Burma berbunyi hrwe ti. gum. bhu. ra:; ini memiliki tinggi 98-meter (sekitar 321.5 feet) dan merupakan bangunan stupa yang terdapat di Yangon, Myanmar, tepatnya di sebelah barat danau Kandawgyi diatas bukit Singuttara. Bangunan yang menjulang tinggi dan tampak menghiasi langit kota Yangon dengan indahnya ini kabarnya menyimpan relik Buddha masa lalu, seperti Buddha Kakusandha, Buddha Konagamana, Buddha Kassapa dan delapan helai rambut Buddha Gautama .

Legenda dan Sejarah

Legenda menceritakan, bahwa Pagoda ini telah dibangun sejak 2500 tahun yang lalu, yang bermula ketika Tapussan dan Bhallika bertemu Sang Buddha dan kemudian menerima delapan helai rambut Sang Buddha untuk disemayamkan di Burma, nama negeri Myanmar sebelumnya. Dua saudagar bersaudara yang datang dari India itu dengan bantuan Raja Ukkalapa menemukan Bukit Singuttara untuk menyimpan relik Sang Buddha Gautam dalam bangunan yang kemudian didirikan yakni pagoda Shwedagon yang bercahayakan emas.

Lepas dari legenda yang dipercayai oleh rakyat Burma, para arkeolog memperkirakan bangunan stupa itu didirikan pada sekitar abad 6 sampai 10 oleh kerajaan Mon. Bangunan ini pernah mengalami keruntuhan pada tahun 1300, namun ketika Raja Mon Binya U Bago berkuasa, pagoda yang berbentuk stupa tersebut dibangun kembali dengan tinggi 18 meter (60 kaki). Kerajaan Mon sendiri memiliki dua pagoda suci, yaitu Shemawdaw di Bago dan pagoda Shwedagon yang dibangun bertahap melalui kurun waktu hingga mencapai ketinggian 98 meter (320 kaki) pada abad 15. Pada awal abad ke 16 pagoda Shwedagon menjadisangat terkenal dan banyak orang dari segenap pelosok dunia datang mengunjungi Burma.

Adanya beberapa gempa bumi yang terjadi turut mendatangkan kerusakan pada pagoda Shwedagon. Kerusakan yang sangat parah dialami pada bencana gempa bumi di tahun 1768 yang meruntuhkan puncak stupa. Namun tak lama kemudian segera diadakan pembangunan kembali oleh raja Hsinbyushin dari dinasti Konbaung. Sebuah hti atau mahkota didonasikan oleh Raja Mindon Min pada tahun 1871, setelah beberapa daerah di Burma dianeksasi Inggris. Selanjutnya gempa bumi yang cukup kuat di tahun 1970 juga sempat mendorong tiang mahkota dan cukup mengaburkan pandangan kearah puncak stupa.

Bila hendak masuk dan menunju ke puncak Stupa, ada empat pintu masuk menuju Paya, yaitu suatu tempat yang akan membawa seseorang ke atas bukit Singuttara. Menyaksikan ke atas, maka akan tampaklah cahaya keamasan yang terpancar dari puncak stupa pagoda Shwedagon yang memang terbuat dari lempengan emas. Logam mulia itu merupakan hasil dari sumbangan rakyat Myanmar maupun dari para raja di sepanjang sejarah pembuatannya, seperti Ratu Mon Shin Sawbu di abad 15 yang memberikan simpanan emasnya.

Pagoda yang merupakan tempat suci menyimpan relik para Buddha ini merupakan juga tempat yang diyakini dan dijadikan rujukan bagi rakyat dalam menentukan bintang keberuntungannya dari hari kelahirannya melalui oleh nama-nama binatang. Nama-nama binatang itu adalah: garuda (galon) untuk hari minggu, harimau untuk senin, singa untuk hari selasa, gajah untuk hari rabu, tikus untuk hari kamis, babi untuk jum’at, dan naga untuk hari sabtu. Setiap bintang kehidupan seseorang berupa nama binatang ini memiliki citra Buddhanya masing-masing yang selalu dipuja seperti melalui persembahan bunga, air dan lainnya melalui iringin doa, dan harapannya.

Pagoda Perjuangan

Mereka yang akan melakukan puja di pagoda emas itu pastilah tanpa alas kaki, dan para pengunjung yang hendak memasuki pagoda diminta melepaskan sepatunya. Dalam sepanjang sejarah, dan sejak kedatangan bangsa Inggris, melepaskan sepatu merupakan isu senditif yang bisa menjadi pemicu unjuk rasa dan pemberontakan. Banyak kejadian yang dialami pagoda Shwedagon selama penjajahan Inggeris dan sebanyak itu pula pagoda ini menyimpan kenangan peristiwa heroik bangsa Burma.

Dua abad setelah Inggris mendarat pada 11 Mei 1824 berlangsung perang yang dikenal sebagai perang pertama bangsa Burma dengan Inggris. Semasa perang itu Inggris sangat tertarik dengan pagoda itu dan menjadikan Pagoda Shwedagon itu sebagai sebuah benteng pertahanan dan pusat komando untuk memantau seluruh kota, dan ketika mereka meninggalkannya dua tahun kemudian stupa itu pun dibiarkan terlantar begitu saja.

Penjarahan, vandalisme dan upaya pencurian juga tidak luput terhadap benda-benda berharga yang ada di dalam pagoda tersebut. Pernah seorang pimpinan tentara melakukan penggalian sebuah terowongan menuju ke dalam stupa untuk menemukan sesuatu yang dapat dijadikan senjata. Maha Gandha Bell, dengan berat 23 ton yang didonasikan oleh Raja Singu dan yang secara populer dikenal sebagai Singu Bell juga pernah dikeluarkan. Tetapi, ketika dalam perjalanan dengan maksud mengapalkannya untuk dibawa Calcutta, Maha Gandha Bel ini tenggelam ke dalam sungai. Kejadian yang serupa juga pernah terjadi pada benda berharga lainnya yaitu Dhammazedi Bell yang hendak dibawa oleh petualang Portugis Philip de Brito y Nicote di tahun 1608.

Pada perang raya Burma-Inggris yang kedua, Bangsa Inggris kembali menduduki Pagoda Shwedagon di bulan April 1852. Selama 77 tahun berikutnya hingga tahun 1929, pagoda tersebut berada di bawah kontrol militer Inggeris, meskipun masyarakat tidak dilarang bila hendak mengunjunginya menuju Paya.

Selanjutnya Pagoda Shedagon ini kerap dijadikan arena perjuangan rakyat. Di tahun 1920 misalnya, para mahasiswa Burma dengan di sebuah paviliun di sebelah selatan Pagoda mengadakan pertemuan dalam rangka merencanakan unjuk rasa memprotes undang-undang Universitas yang baru yang hanya memberi keuntungan bagi elit berkuasa dan ditopang oleh hukum kolonial. Tempat ini sekarang dijadikan sebagai tempat untuk peringata hari Nasional Bangsa Burma (National Day). Selama perang kedua mahasiswa juga melakukan perjuangan yang bersejarah di tahun 1936 dengan mengambil teras pagoda Shwedagon sebagai kampus pergerakannya.

Pagoda Shwedagon juga menjadi tempat dan titik tujuan aksi para pekerja tambang di tahun 1938, yang melakukan protesnya dengan berjalan kaki dari ladang minyak di Chauk dan Yenangyaung di Burma Tengah menuju Rangoon. Perjuangan ini juga didukung oleh masyarakat luas termasuk mahasiswa yang dikenal sebagai “Revolusi 1300”yang juga memprotes para tentara yang bersepatu boot untuk melepaskan sepatunya ketika berada di halaman pagoda.

Ketika terjadi perjuangan kemerdekaatn, pagoda ini kembali menjadi tempat perlawanan yang bersejarah lainnya. Pada Januari 1946, jenderal Aung San mengadakan pertemuan massa di pagoda Shwedagon dalam menuntut kemerdekaa negerinya “kemerdekaan sekarang juga.” dari kolonial Inggeris.

Kemudian 42 tahun kemudian puteri Aung San, Aung San Suu Kyi juga mengadakan pertemuan massa di di tempat yang sama yang diikuti oleh 500.000 orang. Puteri pejuang kemerdekaan negeri Burma ini menuntut demokrasi dan mengadakan perlawanan terhadap rejim militer yang tengah berkuasa dalam peristiwa yang dikenal sebagai 8888, kebangkitan dan perjuangan kemerdekaan kedua

Gerakan Damai Bhiksu 2007

Kini pada September 2007, dengan diawali dan dimotori oleh para Bhiksu kembali Pagoda Shwedagon menjadi suaka bagi anak perjuangan anak negerinya. Pagoda Buddha ini menjadi arena perjuangan rakyat Myanmar dalam memprotes rejim militer yang berkuasa atas kenaikan bahan bakar dan kebutuhan pokok lainnya yang semakin memiskinkan kehidupannya.

Gelombang protes tersebut mencapai puncaknya pada 24 September 2007 yang diikuti oleh 20.000 bhiksu dan merupakan protes terbesar sejak 20 tahun terakhir. Mereka berbaris rapih di pagoda emas Shwedagon, Yangon itu. Protes itu terus bergulir bagai bola salju dimana dimana 30.000 orang bersama 15.000 bhiksu berbaris dari pagoda Shwedagon dan kemudian berhenti di tempat tahanan Aung San Suu Kyii, pemimpin oposisi dari partai Liga National untuk Democracy (NLP).

Pada 26 September, terjadi clash antara pasukan keamanan dan ribuan pengunjuk rasa yang dipimpin oleh para Bhiksu maupun Bhiksuni yang menyebabkan lima orang pengunjuk rasa tewas. Pasukan keamanan junta militer mempergunakan gas air mata, alat pemukul dan senjata api untuk membububarkan demonstrasi damai yang dilakukan sejumlah bhiksu di sekitar Pagoda Shwedagon.

Di halaman pagoda suci yang dijunjung tinggi oleh rakyat Myanmar itu, diantara kekerasan yang dilakukan pasukan keamanan junta militer yang berkuasa juga terlohat 100 bhiksu yang masih bertahan dengan menyanyikan nyanyian-nyanyian suci, melakukan sembahyang menolak perlakuan kasar oleh pemerintahan junta militer terhadap rakyatnya. Sebaliknya pasukan keamanan junta di halaman pagoda itu justru memumukuli para pengunjuk rassa dan tetap menyerang ratusan bhiksu dan rakyat yang mendukungnya, dan beberapa bhiksu dan pengunjuk rasa lainnya pun berlari menuju pagoda Sule, sebuah monumen Buddhis yang juga menjadi landmark pusat kota Yangon.

Tampak bagi rakyat Myanmar, pagoda Shwedagon yang menjadi landmark dan identitas religius negara itu adalah juga simbol perlawanan dan perjuangan rakyatnya. Dari kejauhan butir-butir cahaya keemasan yang berpendar dari Pagoda yang telah menjadi saksi sejarah dan simbol perjuangan bagi anak negeri yang cinta damai, akan selalu memancar dan menjadi sumber inspirasi bagi siapa saja yang berjuang dei pembebasan dari belenggu penderitaan. (Jo Priastana)

Posted in Sejarah | Leave a Comment »

SEJARAH AGAMA BUDDHA DI MYANMAR

Posted by yasodhara on February 8, 2009

Beribukota Naypyidaw yang diresmikan pada 6 November 2005 oleh pemerintahan junta militer sebagai pengganti ibukota sebelumnya Yangon, negara Myanmar yang dahulu bernama Burma memiliki komposisi penduduk terbesar 89% beragama Buddha dan etnis Burma sebesar 68%. Mayoritas penduduk ini hidup berdampingan dengan etnis lainnya Shan (9%), Kayin (7%), Rakhine (4%), Mon (2%), Kayah dan Kachin, dan penganut agama Kristen (4%), Islam (4%), dan lainnya (3%). (Kompas, 11/10/07).

Karena itu, negara dengan jumlah penduduk 48.798.000 jiwa (Juli 2007) yang memiliki pagoda Swedagon yang menjulang di kota Yangon sebagai identitas nasional Burma dapat dikatakan sebagai negara Buddhis terbesar di Asia Tenggara, berdampingan dengan negeri tetangganya yang juga berpenduduk mayoritas Buddhis seperti Laos, Thailand, China. Kini para bhiksu yang berakar dalam masyarakatnya itu tengah berhadapan dengan penguasa negerinya sendiri yang mengerahkan para serdadunya mengobrak-abrik vihara.

Diperkirakan negara yang dikenal juga sebagai negara seribu pagoda ini memiliki puluhan ribu bhiksu/bhikkhu yang mendiami puluhan ribu vihara-vihara pada negara seluas 676.578 km2 yang memikiki perbatasan darat dengan Thailand, China, India, Laos dan berhadapan dengan Samudera Hindia. Para bhiksu/bhikkhu di Myanmar yang belum lama ini pada September 2007 lalu melakukan aksi perlawanan secara damai terhadap junta militer merupakan strata social yang sejak dahulu kala memiliki pengaruh luas dan telah berakar jauh dalam masyarakat Myanmar.

Sejarah kehidupan kebhiksuan di Myanmar ini juga tak lepas dari negeri Srilanka yang menjadi sumber dari mana pergerakan agama Buddha menyebar ke Asia Tenggara, khususnya agama Buddha bermashab Theravada. Dalam buku Edward Gonze, “A Short History Buddhism,” Allen and Unwin, London-Boston, 1980, terungkap bahwa agama Buddha telah masuk ke Burma sejak abad ke 5 dan abad ke 6, baik agama Buddha Theravada maupun agama Buddha Mahayana.

Namun jauh sebelumnya, dikabarkan pula bahwa negeri yang terkenal dengan sebutan Suvannabhumi ini jauh sebelumnya di sekitar abad ke 3 SM telah memiliki kontak dengan sekelompok pedagang dari Jambudipa, sebutan untuk negeri India. Menurut sumber sejarah seperti yang terdapat dalam Mahavamsa, disebutkan bahwa pada abad ke SM itu terdapat dua orang bhikkhu dari India yang bernama Sona dan Uttara menyebarkan Dhamma ke negeri Suvannabhumi.

Sedangkan adanya suatu organisasi yang kuat bagi pejalan kebhikkhuan di Myanmar itu sendiri baru terbentuk pada abad 9, yaitu yang menamakan dirinya “Ari” (dari kata arya yang berarti mulia). Dikabarkan agama Buddha yang ada itu adalah agama Buddha Pala yang berasal dari Bihar, India dan Bengal yang bermashab Mahayana dan juga menyerap kepercayaan setempat. Baru awal periode tahun 1000 agama Buddha di Burma ini berubah karakternya dengan mengambil inspirasi pada Buddha yang berasal dari Srilanka, yang diprakarsai oleh Raja Anawrahta dari Pagan di tahun 1057 yang mendatangkan bhiksu-bhiksu dan kitab suci dari Ceylon, Srilanka.

Sejak itulah kelompok bhiksu Mahayana dan juga Vajrayana memudar pengaruh dan dominasinya, meski keberadaannya tidak lenyap bahkan hidup terus sampai akhir abad 18. Kehidupan kebhikkhuan beralih kepada mashab Theravada yang mendapat perlindungan istana, sehingga tumbuhlah kebudayaan Buddhis dengan peninggalannya yang sangat bagus dan indah.

Semasa kekuasaan Narapatisithu (1173-1210) banyak vihara dibangun dibawah para sponsor seperti Sulamani, Gawdawpalin juga untuk penulisan kitab suci Pali. Chapata yang juga dikenal sebagai Saddhammajotipala menulis suatu seri karya mengenai tata bahasa Pali, disiplin vinaya dan filsafat seperti: Suttanidesa, sankhepavannana, Abhidhammatthasangha. Sementara pujangga lainnya yang bernama Sariputra menulis karya yang merupakan koleksi pertama mengenai komposisi hukum kesunyataan yang dikenal sebagai Dhammavilasa atau Dhammathat.

Kebudayaan Buddhis yang tumbuh semarak pada masa itu dikabarkan tercermin dengan tumbuhnya 9000 ribu pagoda dan vihara yang memenuhi tanah seluas delapan mil, diantaranya yang paling terkenal adalah Vihara Ananda dari abad ke 11. Dalam Vihara ini terdapat 547 cerita Jataka yang dikisahkan di atas tanda peringatan atau piagam yang dibuat dari lapisan kaca. Hal ini berlangsung selama tiga abad sebelum kekuasaan Pagan itu dihancurkan oleh Bangsa Mongol pada tahun 1287.

Meski, setelah runtuhnya dinasti Pagan ini, dan selama 500 tahun ke depan Burma terbagi-bagi dalam kerajaan-kerajaan yang saling berperang, namun tradisi Theravada tetap berlanjut walau tidak semerbak periode sebelumnya, bahkan raja Dhammaceti dari Pegu di akhir abad 15 memperkenalkan kembali pergantian pimpinan vihara yang sesuai kitab suci dari Ceylon.

Pada tahun 1752, Burma mengalami penyatuan kembali, dan setelah tahun 1852 Sangha memperoleh perlindungan, dan sebuah dewan di Mandalay memperbaiki teks Tipitaka pada tahun 1868-71 yang kemudian diukir di atas 729 lempengan pualam. Namun, kedatangan kolonial Inggrias di tahun 1885 sangat merugikan perkembangan agama Buddha dan Sangha karena mereka banyak menghancurkan tempat-tempat suci, dan sejak itu pula para bhiksu memainkan peranan penting dalam perjuangan merebut kemerdekaan.

Sangha yang merupakan komunitas bhiksu tidaklah asing bagi rakyat Burma. Rakyat disamping masih memiliki kepercayaan leluhurnya yakni para Nat atau “roh” yang diminta menolong mereka juga memiliki kepercayaan tentang cara utama untuk memperoleh kebajikan yaitu dengan membangun pagoda atau vihara. Bisa dimengerti bila Burma memiliki banyak pagoda, dan vihara-vihara selalu berada di pusat-pusat tempat tinggal mereka, dimana vihara-vihara itu juga berfungsi sebagai tempat pendidikan tempat rakyat melek huruf.

Bersama Sangha yang mendapat tenpat di hati rakyat, agama Buddha menjadi kekuatan yang memberikan karakteristik peradaban Burma. Sesungguhnya, agama Buddha yang dibabarkan oleh Sang Buddha ini sepanjang sejarahnya telah memicu kehidupan social yang demokratis dan non-materialistis bagi bangsa Burma, disamping membawa keindahan pengetahuan, etika kehidupan yang menekankan kesederhanaan yang semuanya itu merupakan sumber nilai untuk terciptanya perdamaian dan kebahagiaan.

Namun, melihat perkembangannya yang ada kini, dan juga jaman yang bergerak cepat, rupanya persoalan Burma atau Myanmar kini, hubungan antara agama dan negara, antara komunitas Sangha dan para pemimpin pemerintahan tidaklah sesederhana sebagaimana nilai-nilai nan indah itu dikumandangkan. Sewaktu U Nu berkuasa, U Nu berupaya menghidupkan kembali Buddhisme seperti semasa kerajaan yang jaya dulu, namun U Nu tidak dapat bertahan lama dan Burma pun terbelenggu masuk dalam genggaman dictator militer yang kaku dan membosankan.

Kini ditengah tantangan kehidupan bangsanya yang berada dibawah kendali junta militer, para bhiksu yang telah membudaya itu tetap berupaya melakukan reposisinya dalam menjalankan fungsinya sebagai penjaga kehidupan masyarakatnya. Para bhiksu dipaksa jaman dan terpaksa harus menghadapi tantangan social politis yang terbentang keras itu dengan bangkit dan bergerak ke jalan dalam dami demi mewujudkan nilai-nilai buddhadharma tetap berakar dan demi tetap berada di hati rakyat yang sepanjang sejarah menjadi pendukung sejati jalan kesuciannya. (jo priastana).

Posted in Sejarah | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.